Demo Mahasiswa Papua di Surabaya Diwarnai Insiden, 16 Orang Luka

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan orang yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) memperingati 49 tahun Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Agustus 2018. Pepera 1969 menghimpun pendapat perwakilan masyarakat Papua Barat untuk bergabung dengan Republik Indonesia atau merdeka. TEMPO/Subekti

    Puluhan orang yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) memperingati 49 tahun Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Agustus 2018. Pepera 1969 menghimpun pendapat perwakilan masyarakat Papua Barat untuk bergabung dengan Republik Indonesia atau merdeka. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Surabaya - Juru bicara Aliansi Mahasiswa Papua Surabaya Darlince Iyowau mengatakan 16 mahasiswa cedera saat berunjuk rasa di Jalan Pemuda, Surabaya, Sabtu, 1 Desember 2018. Menurut dia, mereka menjadi korban pemukulan dan pelemparan batu dari anggota ormas tertentu.

    "Dari 16 orang, tiga di antaranya bocor di kepala," kata Darlince saat ditemui seusai unjuk rasa di asrama mahasiswa Papua, Jalan Kalasan, Surabaya.

    Baca: Demo Mahasiswa Papua di Surabaya, Nyaris Bentrok dengan Ormas

    Dari pantauan Tempo, tiga tenaga medis hilir mudik mengobati korban di dalam asrama. Adapun di luar asrama, puluhan polisi masih berjaga-jaga.

    Sebelumnya, sekitar 300 mahasiswa Papua menggelar unjuk rasa di depan Studio Radio Republik Indonesia, Jalan Pemuda, Surabaya. Sambil mengenakan ikat kepala bercorak bendera Bintang Kejora, mahasiswa mendesak pemerintah agar memberi keleluasaan bagi rakyat Papua Barat untuk menentukan nasibnya sendiri. Mahasiswa juga menuntut kemerdekaan Papua.

    Unjuk rasa nyaris ricuh ketika sekitar 200 massa kontra Papua merdeka datang dan menggelar demonstrasi tandingan. Massa tandingan terdiri dari Pemuda Pancasila, Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri, Himpunan Keluarga Purnawirawan TNI Angkatan Darat dan organisasi pencak silat.

    Massa tandingan berupaya menyerang barisan mahasiswa namun berhasil dicegah polisi. Polisi akhirnya berhasil membujuk mahasiswa membubarkan diri. "Tolong kawan-kawan mahasiswa mundur karena anda tidak punya izin unjuk rasa," kata Komisaris Fathoni dari Bagian Operasi Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya melalui pengeras suara kendaraan lapis baja penyemprot air.

    Baca: Kata Anak Aktivis Theys Eluay soal Peringatan HUT OPM

    Di saat mahasiswa mundur itu terjadi beberapa insiden. Dari pantauan Tempo, seorang berseragam ormas kepemudaan terlihat memukul kepala salah seorang mahasiswa menggunakan tongkat. Namun polisi segera meredam keributan. Akhirnya polisi mengawal mahasiswa hingga kembali ke asramanya.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Sudamiran mengatakan polisi hati-hati menangani demo mahasiswa Papua kendati tak diberi izin unjuk rasa. "Polisi memang punya kewenangan diskresi membubarkan unjuk rasa, tapi harus mempertimbangkan banyak hal," kata dia.

    Pengacara Aliansi Mahasiswa Papua, Veronica Koman, mengapresiasi polisi yang menjaga unjuk rasa dengan relatif baik. Sebab, beberapa kali polisi berhasil mencegah massa ormas yang berupaya menyerang mahasiswa. "Saya mengapresiasi polisi yang mampu menghindarkan dari bentrokan besar," kata dia.

    Baca: PP dan FKPPI Bakal Hadang Demo Mahasiswa yang Usung Papua Merdeka


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?