Beda Kubu Jokowi dan Prabowo Soal Pelaporan Bahar bin Smith

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bahar bin Smith. foto/instagram

    Bahar bin Smith. foto/instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Penceramah Muhammad Bahar bin Smith menjadi perbincangan hangat hampir sepekan ini. Ceramahnya yang menyinggung soal Presiden Joko Widodo atau Jokowi membuat banyak orang terperanjat.

    Baca juga: Soal Pelaporan Bahar, Sandiaga: Kita Harus Jaga Ujaran

    Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid melaporkan Bahar bin Smith ke Polda Metro Jaya. Muannas menyinggung ceramah Bahar bin Smith yang berkata seperti ini: 'Kalau kamu ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu, jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu'. Menurut Muannas, ucapan yang demikian mengerikan sekali ditujukan kepada seorang kepala negara.

    Atas ceramah dan pelaporan terhadap Bahar bin Smith tersebut, baik kubu Jokowi maupun Prabowo punya pandangan yang berbeda. Berikut kata mereka.

    Kubu Jokowi

    - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mendukung pelaporan terhadap Muhammad Bahar bin Smith.

    Co-Founder dan CEO WIR Group Daniel Surya dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko membuka acara Disrupto 2018, gelaran inovasi teknologi untuk perekonomian Indonesia di Main Stage, Plaza Indonesia Extension, Jakarta Pusat, Jumat, 23 November 2018. TEMPO/Khory

    "Iya dong. Harus itu. Itu seorang ulama berbicara seperti itu. Saya secara pribadi mengutuk itu," kata Moeldoko di Kantor Presiden Jakarta, Kamis, 29 November 2018.

    Moeldoko yang juga wakil ketua tim kampanye nasional Jokowi mengatakan, seorang ulama semestinya menjadi panutan karena tutur kata dan perilakunya yang baik. Namun, setelah melihat video ceramah Bahar yang viral itu, Moeldoko pun heran. Sebab, kata dia, tak seharusnya seorang kepala negara diperlakukan seperti itu. "Sebagai pribadi, saya enggak respect," ujarnya.

    - Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia atau PSI Raja Juli Antoni menilai ucapan Muhammad Bahar bin Smith tidak menggambarkan nilai-nilai keislaman. Menurut dia, bicara kasar menghujat dan marah-marah bukan merupakan tradisi Islam.

    "Di Al-quran disebut kalau kita bermuka masam dan marah-marah mereka malah kabur dari agama," kata Juli di Jakarta, Jumat, 30 November 2018.

    Selain itu, Juli menilai ceramah Habib Bahar juga berbahaya sebab kerap menyinggung isu pribumi dan nonpribumi. Dia mengatakan isi ceramah Bahar kerap mengeksploitasi isu-isu tersebut. " Itu berbahaya sekali."

    Juli berharap kubu pasangan Prabowo-Sandi juga punya penilaian yang sama. Dia berharap pihak Prabowo juga berani melaporkan Habib Bahar ke polisi. Dia mengatakan ini bukan soal Bahar adalah pendukung Prabowo atau bukan. Tapi menurut dia omongan Bahar berbahaya untuk demokrasi. "Kecuali kalau memang mereka menyetujui cara kampanye sepeti itu," kata dia.

    - Juru Bicara Tim Kampanye Nasinal (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, menyatakan soal pelaporan pendakwah Muhammad Bahar bin Smith bukan kriminalisasi ulama. Ia mengatakan pelaporan Bahar ke kepolisian itu bukan soal Jokowi, tapi lebih besar lagi, soal marwah negara.

    "Ini soal eksistensi negara dan simbol negara. Ini soal marwah negara, bukan soal pak Jokowi," ujar Karding kepada  Tempo, Jumat 30 November 2018.

    Kubu Prabowo

    Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, mengunjungi sentra kerajinan industri kayu dan tanduk Subur Souvenir di Pucang Secang, Magelang, Sabtu, 17 November 2018. Foto: Istimewa

    - Calon wakil presiden Sandiaga Uno mengaku belum mendengar dan mempelajari ceramah Muhammad Bahar bin Smith yang dilaporkan itu. Tetapi dia mengimbau semua pihak untuk meneduhkan suasana di tahun politik ini.

    "Dalam keadaan pilpres seperti ini tentunya kita harus sama-sama berhati-hati menjaga ujaran kita dan menenangkan, menyejukkan suasana," kata Sandiaga di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat, 30 November 2018.

    Menurut Sandiaga, para penceramah seharusnya berfokus menyampaikan hal-hal yang meneduhkan. Dia berpendapat bahwa ujaran-ujaran yang bisa memperuncing situasi politik seharusnya dihindari. Sandiaga pun berharap aparat kepolisian bijak dalam menyikapi pelaporan itu.

    "Ini tokoh agama yang banyak pengikutnya ya, agar meneduhkan suasana, jangan sampai lebih memperuncing keadaan, dan itu menjadi tanggung jawab kita semua," kata Sandiaga.

    - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan upaya pelaporan terhadap dai Muhammad Bahar bin Smith menunjukkan pemerintah tengah mengalami Islam fobia. Ia menduga, pelaporan ini mengarah pada ketidakadilan.

    "Kalau yang melaporkan langsung diproses, sementara yang dekat dengan pemerintah tidak diproses, ini kezaliman sempurna," ujar Fadli saat ditemui wartawan di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 29 November 2018.

    Fadli menganggap pernyataan kontroversial yang disampaikan Bahar bin Smith adalah bentuk kritik. Ia menduga, ujaran tersebut mengandung metafora yang tak perlu ditanggapi serius. Apalagi hingga dilaporkan ke polisi.

    - Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Faldo Maldini, mengatakan dirinya sepakat bahwa dalam demokrasi tidak dibenarkan mengkriminalisasi seseorang. Sama halnya kepada dai Muhammad Bahar bin Smith yang mengkritisi pemerintah dengan cara agak keras, menurut Faldo, sudah ada Undang-Undang yang mengatur soal ini.

    Baca juga: Dai Penghina Jokowi Pernah Ditangkap Bawa Pedang Samurai

    “Demokrasi itu juga tidak mengkriminalisasi, tidak melakukan penangkapan kepada orang-orang yang mungkin bicara cukup keras kepada pemerintah. Kan Undang-Undangnya ada,” kata Faldo di Litera Cafe, Ciputar, Tangerang Selatan, Jumat 30 November 2018.

    Namun Faldo mengatakan pihaknya akan menyerahkan proses selanjutnya kepada hukum yang berlaku. “Ya sudah kita serahkan saja lah kepada penegak hukum,” kata dia.

    Ia hanya mengharapkan aparat hukum bertugas dengan benar. Serta kasus seperti ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak. “Kalau dari kami karena sekarang orang kan bebas ya untuk menyatakan sesuatu. Tapi kami patuh saja sama hukum,” ucap politisi muda Partai Amanat Nasional ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.