Singgung Situasi Saat Ini, Jokowi Uraikan Arti Lagu Nissa Sabyan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menghadiri Festival Bintang Vokalis Qasidah Gambus Tingkat Nasional XXIII, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis, 29 November 2018. Tempo / Friski Riana

    Presiden Joko Widodo menghadiri Festival Bintang Vokalis Qasidah Gambus Tingkat Nasional XXIII, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis, 29 November 2018. Tempo / Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku sedih dengan situasi saling menghujat, mencela, menjelekkan, fitnah, dan hoaks yang marak di media sosial menjelang akhir tahun ini. Jokowi pun membandingkan situasi tersebut dengan arti lirik lagu "Deen Assalam yang dinynayikan grup musik gambus Nissa Sabyan.

    Baca: Jokowi Minta ASN Tak Terjebak Ego Sektoral

    "Coba kalau kita artikan pada abtahiyyah wabsalam, melalui perilaku mulia dan damai. Kemudian ansyaru ahlal kalam zainuddin yahtirom, sebarkanlah ucapan yang manis," kata Jokowi di acara Festival Bintang Vokalis Qasidah Gambus Tingkat Nasional XXIII, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis, 29 November 2018.

    Menurut Jokowi, maraknya situasi saling mencela, fitnah, dan hoaks dimulai dari pemilihan bupati, wali kota, gubernur, hingga presiden yang diadakan setiap lima tahun sekali. Padahal, kata Jokowi, berbeda pilihan pemimpin itu hal yang wajar dalam setiap proses demokrasi. "Saya imbau marilah kita sama-sama menghadapi pesta demokrasi dengan kedewasaan. Jangan sampai fitnah isu berkembang," kata dia.

    Jokowi menuturkan, dirinya juga sedih karena kerap difitnah dan dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di media sosial. Padahal, kata Jokowi, baru berumur 5 tahun ketika PKI dibubarkan pada 1965. Setelah isu PKI dibantahnya, Jokowi mengaku fitnah malah datang kepada keluarganya, khususnya orang tua dan kakek neneknya.

    Baca: Arsul Sani: Reuni Akbar PA 212 Tak Pengaruhi Elektabilitas Jokowi

    Jokowi pun menyarankan masyarakat yang memfitnahnya atau yang percaya fitnah itu untuk mengecek ke sejumlah organisasi Islam di daerah kelahirannya. Menurut Jokowi, jika isu tersebut tidak diluruskan nantinya bisa berkembang menjadi prasangka buruk di masyarakat.

    "NU ada di Solo. PPP ada di Solo. Muhammadiyah ada di Solo, Persis, Al Irsyad, LDII, MTA ada di Solo, tanya saja masjid di dekar rumah saya, tanya mesjid di dekar orang tua saya, dekat nenek saya. Gampang sekali. Enggak ada ditutup-tutupi. Saya dan keluarga saya muslim, bapak ibu saya muslim, kakek nenek saya juga muslim. Enggak ada yang percaya? Tabayyun, cek. Gampang," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.