Pasca-Gempa Palu, P2TP2A: Waspadai Kekerasan dan Trafficking

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi pengungsi di Petobo Atas, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018. Pengungsi telah lebih dari 10 hari mendiami tenda tersebut. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kondisi pengungsi di Petobo Atas, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018. Pengungsi telah lebih dari 10 hari mendiami tenda tersebut. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Palu - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Tengah menyebut praktik perdagangan manusia dan perdagangan perempuan patut diwaspadai pascabencana gempa Palu yang terjadi akhir September lalu.

    "Seperti pengalaman di daerah lain pascabencana, banyak terjadi hal-hal tindak kekerasan terhadap perempuan mulai dari perkosaan, pelecehan seksual trafficking, perdagangan anak," kata Ketua Divisi Pendampingan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak P2TP2A Sulawesi Tengah, Nudiatulhuda Mangun di Palu, Senin, 26 November 2018.

    Baca: Trauma Healing untuk Anak-anak Korban Gempa Palu Digelar di Posko

    Ia menyebut perempuan dan anak menjadi kelompok yang paling terdampak pascabencana. Menurut Inun, sapaan akrab Nudiatulhuda, penyebabnya adalah beban hidup yang besar pascabencana gempa. Beban hidup tersebut, kata dia, yang membuat perempuan rentan mendapat perlakuan kekerasan seperti pelecehan atau trafficking.

    Kondisi itu, kata Inun, tidak boleh dibiarkan. "Ini yang harus tentu kita hindari, kita cegah bersama-sama, jangan sampai terjadi di daerah kita pascabencana," ujarnya.

    Baca: Pasca-Gempa, 4.000 Hunian Tetap Bakal Dibangun di Kota Palu

    Aktivis perempuan itu menyarankan kepada pemerintah daerah untuk lebih menggiatkan upaya-upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan demi mencegah terjadinya praktik-praktik tersebut. "Pemerintah sudah berbuat, sudah ada pemerintah hadir. tetapi mungkin lebih digiatkan lagi, lebih diintensifkan lagi upaya-upaya itu," kata Inun.

    Menurut dia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah membentuk program, termasuk cluster-cluster untuk mencegah hal-hal tersebut. Namun ia mengatakan nyatanya di daerah ini masih kekurangan relawan untuk memberikan sosialisasi atau pemahaman kepada masyarakat tentang perlindungan dan pemenuhan hak perempuan dan anak serta kemampuan untuk survive pascabencana.

    Baca: OJK Meminta Nasabah Bank Korban Gempa Palu Melapor Jika ...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.