Gelar Safari Kebangsaan, PDIP: Politik Kebudayaan Jadi Pilihan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto membuka acara lokakarya dalam rangka menyambut Pileg dan Pilpres 2019 di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 9 Juli 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto membuka acara lokakarya dalam rangka menyambut Pileg dan Pilpres 2019 di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 9 Juli 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan politik kebudayaan menjadi pilihan partainya. Safari Kebangsaan Dewan Pimpinan Pusat PDIP ke berbagai daerah akhir-akhir ini sebagai sarana menggelorakan semangat kebangsaan dan nasionalisme.

    "Kita berharap dari Yogyakarta bisa melahirkan pemimpin bangsa, kader muda yang tampil ke depan. Tentu dengan warna kebudayaan, politik yang berbudaya," kata Hasto Kristiyanto di depan kader PDIP Sleman, Yogyakarta,  Senin, 26 November 2018.

    Baca: PDIP Gelar Safari Kebangsaan II, Sambangi Bandung dan Yogyakarta

    Safari kebangsaan yang mengunjungi sejumlah kota di Jawa, mulai dari Bandung, Tasikmalaya,  Pangandaran,  Magelang dan berakhir di Sleman,  turut diikuti oleh sejumlah tokoh PDIP. Antara lain Djarot Saiful Hidayat, Nusyirwan juga Idham Samawi.

    Hasto berujar dengan posisinya yang strategis, Yogyakarta seharusnya dapat melakukan rekruitmen kader muda. Kalangan mahasiswa, kata dia, harus jadi titik perjuangan. "Bukalah pintu lebar kepada generasi muda untuk jadi pemimpin. Ada banyak organisasi pemuda. Rangkul anak muda lebih banyak, beri akses buat mereka," kata Hasto.

    Simak: Targetkan Menang Pileg dan Pilpres PDIP, Gelar Safari Kebangsaan

    Dalam kesempatan itu  Hasto mengenalkan atribut bergaya milenial sebagai identitas untuk pemenangan pemilu 2019. Ia tidak mau  menanggapi kritik  Presiden Joko Widodo soal banyaknya "kompor" saat berada di Palembang. Jika itu (kompor) ditanggapi maka tidak akan ada habisnya. “Kalau kompor ya buat bikin kopi dan memasak saja” kata dia.

    Sebelumnya, Jokowi berpesan kepada masyarakat agar jangan mudah dipanas-panasi "kompor" yang menggunakan hoax dan isu-isu negatif pemecah-belah persatuan bangsa.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.