Situasi Politik Panas, Jokowi: Ini karena Banyak Kompor

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyapa peserta jalan sehat bertajuk Sehat Bersama 01JokowiLagi di Lampung, Sabtu 24 November 2018. Jalan Sehat Bersama #01JokowiLagi tersebut diikuti oleh ribuan peserta. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyapa peserta jalan sehat bertajuk Sehat Bersama 01JokowiLagi di Lampung, Sabtu 24 November 2018. Jalan Sehat Bersama #01JokowiLagi tersebut diikuti oleh ribuan peserta. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi berpesan kepada masyarakat agar jangan mudah dipanas-panasi "kompor" yang menggunakan hoax dan isu-isu negatif pemecah-belah persatuan bangsa.

    Baca juga: Sama-sama Berkampanye di Pasar, Ini Gaya Jokowi vs Sandiaga Uno

    Saat menyampaikan sambutan setelah menerima gelar adat Rajo Balaq Mangku Nagara, di Griya Agung, Palembang, Minggu pagi, 25 November 2018 dia mengatakan, "Saya kadang-kadang geleng-geleng ini satu kampung, satu RT atau RW, tidak saling menyapa gara-gara pilihan bupati, gubernur, atau presiden. Ada majelis taklim, gara-gara pilihan presiden tidak saling menyapa." Masyarakat setempat berduyun-duyun hadir pada gelaran itu, yang juga dihadiri Ibu Negara, Iriana Joko Widodo.

    Padahal, kata Jokowi, pilihan bupati, gubernur, presiden, wali kota bukan saat ini saja atau rutin setiap lima tahun itu ada.

    "Kita ini saudara, sebangsa, dan se-Tanah Air. Jangan lupakan itu. Ini karena banyak kompor, karena dipanas-panasi, dikompor-kompori jadi panas semuanya," katanya.

    Ia berpesan agar masyarakat menggunakan hati nurani dan pendapat masing-masing serta rasional dalam menentukan pilihannya.

    "Pilihan gubernur silakan pilih A, B, C, atau D kalau calonnya empat, yang bupati juga silakan pilih A, B, atau C. Tapi jangan sampai ada gesekan sekecil apapun, jangan sampai ada konflik," katanya.

    Jokowi kembali mengingatkan, Indonesia adalah negara besar dengan 714 suku dengan bahasa daerahnya juga berbeda-beda. Sementara bahasa daerah ada lebih dari 1.100 yang juga berbeda di berbagai wilayah.

    "Saya belajar di sini nanti pergi ke Jawa Barat, lupa lagi. Dari Jawa Barat pergi ke Sumut lupa lagi. Saya sering ingat misalnya seperti di Jawa Barat, setelah salam 'sampurasun'. Kemudian di Sumut ada 'horas', tapi saya pernah tiga kali keliru," katanya.

    Ia mengatakan, perbedaan itu anugerah Allah yang diberikan kepada bangsa Indonesia yang harus disyukuri.

    "Sudah menjadi sunnatullah, sudah menjadi garis, bahwa kita ini bermacam-macam, berbeda-beda, dan berwarna-warni. Tapi kalau kita bisa menyatukan, ini akan menjadi aset terbesar, energi besar, bagi bangsa ini maju ke depan," katanya.

    Baca juga: Jokowi Minta Caleg Partai Koalisi Sampaikan Capaian Pemerintah

    Oleh karena itu, Jokowi berpesan agar jangan sampai Indonesia maju secara teknologi tapi mundur secara kebudayaan.

    "Teknologi indonesia maju, tradisi, adat dan kebudayaan bangsa kita juga harus ikut maju," tegasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, dia juga mengajak masyarakat adat Komering untuk berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.