5 Pernyataan Blunder Prabowo Subianto yang Menuai Kontroversi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto memberikan pidato politiknya pada acara Pembekalan Relawan Pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 02 Prabowo- Sandi di Istora Senayan, Jakarta, Kamis 22 November 2018. Acara tersebut mengambil tema Bergerak Menuju Kemenangan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto memberikan pidato politiknya pada acara Pembekalan Relawan Pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 02 Prabowo- Sandi di Istora Senayan, Jakarta, Kamis 22 November 2018. Acara tersebut mengambil tema Bergerak Menuju Kemenangan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak sekali-dua kali calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto melontarkan kalimat blunder saat kampanye. Dalam sejumlah kesempatan, Prabowo tercatat beberapa kali mengemukakan gagasan yang dinilai tak jelas ujung-pangkalnya. Pernyataannya pun baru-baru ini kerap menuai kritik dan protes. Tak ayal, narasi politik calon presiden itu beberapa kali menjadi sorotan.

    Baca juga: Prabowo Singgung Jenderal Hidup Mewah, Ini Reaksi Fachrul Razi

    Soal tampang Boyolali, misalnya. Ledekan Prabowo itu bermaksud mencandai sistem perekonomian Indonesia yang menurut kubunya makin bobrok. Atas ujarannya ini, Prabowo sempat diprotes oleh Forum Boyolali Bermartabat. Mereka menggelar aksi Save Tampang Boyolali pada Ahad, 4 November 2018.

    Tampang Boyolali bukan ujaran pertamanya yang mendapat risakan dari masyarakat. Sejak masa kampanye pada 23 September lalu dicanangkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), kala bersafari politik, Tempo mencatat setidaknya ada lima ujaran Prabowo yang dinilai blunder. Berikut ini lima ujaran blunder Prabowo tersebut.

    1. Tampang Boyolali

    Prabowo mengujarkan kalimat tampang Boyolali saat ia bersafari politik di Boyolali, Jawa Tengah, pada 30 Oktober lalu. Pernyataan itu ditujukan kepada audiens kampanyenya yang rata-rata adalah warga Boyolali.

    Prabowo mengatakan ada ketimpangan sosial antara warga kota seperti di Jakarta, dan pedesaan, seperti di Boyolali. Prabowo bercerita, di kota-kota besar, terdapat hotel mewah bintang lima yang rasanya sulit terjangkau kalangan akar rumput.

    Baca: Prabowo Minta Maaf Soal Tampang Boyolali, Sandiaga: Negarawan

    Ia lantas bercanda, masyarakat pedesaan seperti di Boyolali tak mungkin mampu menginap di hotel-hotel tersebut. Jangankan menginap, kata Prabowo, mengucapkan nama hotelnya saja mereka tidak fasih. “Kalian tidak tampang orang kaya. Tampang kalian ya tampang Boyolali ini. Betul?" tanya Prabowo.

    Peserta kampanye saat itu tertawa. Lontaran kalimat ini menjadi kontroversi lantaran candaan Prabowo ditangkap sebagai kalimat yang tidak sopan.
    Prabowo lantas menjelaskan bahwa tak ada niat untuk melukai hati masyarakat atas ujarannya itu. Prabowo kemudian minta maaf melalui juru bicara kubunya, Dahnil Anzar Simanjuntak.

    2. Terima Sembako dan Uang Suap

    Pada akhir Juni lalu, Prabowo sempat memberikan pernyataan kontroversial. Ia menyampaikan sembako dan uang suap pada dasarnya merupakan hak rakyat. Prabowo meyakini uang yang digunakan untuk menyuap itu merupakan uang haram yang berasal dari rakyat Indonesia pula.

    Ujaran Prabowo itu memperoleh protes dari Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR). Sunanto menyebut hal itu tidak mencerdaskan. Kalimat yang diunggah prabowo melalui video ke media sosial itu diceletukkan karena alasan sulitnya masyarakat memperoleh sembako dan beras.

    3. Setop Impor


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.