Penjelasan Wiranto soal Foto Viral Anak dan Cucunya yang Bercadar

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Polhukam Wiranto (tengah) usai memberikan keterangan pers mengenai penanggulangan pasca penyanderaan di Mako Brimob, Depok, 10 Mei 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menko Polhukam Wiranto (tengah) usai memberikan keterangan pers mengenai penanggulangan pasca penyanderaan di Mako Brimob, Depok, 10 Mei 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto angkat bicara terkait foto anak dan cucunya yang mengenakan sorban dan cadar. Foto Wiranto berserta keluarganya itu viral saat pemakaman cucunya, Ahmad Daniyal Al Fatih, beberapa waktu lalu.

    Wiranto mengatakan anak dan cucunya yang mengenakan sorban dan cadar memang sempat ramai dibicarakan di media sosial. Ia menjelaskan, sebagai orang tua, dia mempersilakan keluarganya untuk berpakaian apa pun selama itu asal bukan dengan niat untuk pamer tentang keislaman.

    Baca: Viral Foto Keluarga, Ini Pesan Wiranto tentang Pilihan Sang Anak

    "Karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumu lah yang lebih utama," kata Wiranto dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, 21 November 2018.

    Foto Wiranto bersama anak dan cucunya beredar viral di media sosial. Dalam foto tersebut tampak Wiranto berfoto dengan anak dan cucunya yang menggunakan sorban dan cadar saat acara pemakaman cucunya, Daniyal.

    Menurut Wiranto, dia selalu memberi kebebasan kepada keluarganya untuk menjadi apa saja selama tak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang selama ini dia tanamkan. Kepada keluarga, Wiranto juga kerap berpesan agar mereka dapat berguna bagi bangsa dan negara ini. "Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini," kata dia.

    Wiranto juga bercerita bahwa beberapa tahun lalu, publik juga mempertanyakan soal putranya, Zainal Nurizky, yang meninggal sewaktu mendalami pendidikan Al Qur'an di Afrika Selatan. Saat itu, kata dia, banyak orang menyebut anaknya menganut Islam radikal dan lainnya. Padahal, kata Wiranto, anaknya lah yang meminta izin untuk menimba ilmu di sana.

    "Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal di sana karena sakit, di saat membaca ayat-ayat suci. Maka saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, saya hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani," kata Wiranto.

    Baca: Viral Foto Keluarga, Tilik Ilmu Wiranto untuk Anak-anaknya

    Saat cucunya meninggal, kata Wiranto, hal serupa juga terjadi. Banyak orang yang juga mencerca bahkan mengaitkan jabatannya sebagai Menko Polhukam. Namun, Wiranto membantah semua itu.

    Ia mengatakan memiliki komitmen untuk tak memanfaatkan jabatan demi kepentingan keluarga. "Saya memang meminta dengan sungguh-sungguh kepada mereka untuk jangan sekali-kali memanfaat jabatan saya untuk kepentingan pribadi. Saya bersyukur sampai detik ini kami sekeluarga masih dapat mempertahankan komitmen itu," kata Wiranto.

    Selama ini, kata Wiranto, dirinya selalu menekankan kepada keluarganya untuk selalu membedakan agama dan ideologi negara. Menurut dia, kedua hal itu memiliki tujuan sendiri di kehidupan ini. "Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara," ujarnya.

    Baca: Soal Perda Syariah, Wiranto: Sudahlah, Cukup


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.