BIN Sebut Ada Puluhan Penceramah Diduga Berpaham Radikal

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara Badan Intelijen Negara Wawan Hari Purwanto saat konfrensi pers terkait 41 masjid di lingkungan pemerintahan yang terpapar paham radikalisme, di Jakarta Selatan, Selasa, 20 November 2018. TEMPO/TAUFIQ SIDDIQ

    Juru bicara Badan Intelijen Negara Wawan Hari Purwanto saat konfrensi pers terkait 41 masjid di lingkungan pemerintahan yang terpapar paham radikalisme, di Jakarta Selatan, Selasa, 20 November 2018. TEMPO/TAUFIQ SIDDIQ

    TEMPO.CO Jakarta - Badan Intelijen Negara atau BIN tengah melakukan pendekatan dan pengawasan terhadap puluhan penceramah yang diduga menyebarkan paham radikal. Hal tersebut dilakukan setelah BIN menemukan 41 masjid di lingkungan kantor pemerintahan yang terpapar radikalisme.

    "Sekitar lima puluhan, sekarang masih terus didekati," kata Juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa, 20 November 2018.

    Baca: Polri Awasi 41 Masjid Terpapar Radikalisme Temuan BIN

    Wawan mengatakan pengawasan tersebut dilakukan sejak Juni lalu setelah Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menyerahkan penelitiannya terkait 41 masjid di lingkungan kementerian dan BUMN terpapar paham radikalisme. Survei tersebut dilakukan terhadap kegiatan khotbah yang disampaikan beberapa penceramah di masjid tersebut.

    Menurut Wawan, penyebaran konten radikalisme tersebut terbagi dalam tiga kategori. Mulai dari kategori rendah untuk konten yang masih bisa ditolerir, kategori sedang untuk konten yang harus disikapi sampai pada kategori tinggi untuk kontem yang sudah berisikan ceramah berbau perang, atau mendorong gerakan ke arah ISIS atau Marawi.

    "Kalau kategori tinggi sudah menimbulkan pengaruh ke emosi, di dan opini publik. Ini butuh tindakan yang lebih tajam lagi untuk menetralisir," kata Wawan.

    Baca: Kata Wakil Ketua DMI Syafruddin Soal Masjid Terpapar Radikalisme

    Hingga saat ini, menurut Wawan, BIN masih melakukan pemberdayaan secara intensif sampai para penceramah tersebut tidak lagi menyampaikan paham radikalisme.

    Wawan mengatakan pembinaan tersebut mulai dari pendekatan hingga literasi agar ceramah yang disampaikan berisikan pesan-pesan yang menyejukan. "Ini upaya agar penyebaran paham radikal tidak menyebar lebih luas," ujarnya.

    Menurut Wawan, BIN pun telah berkoordinasi dengan lembaga dan organisasi terkait, seperti Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia hingga Dewan Masjid Indonesia dalam pemberdayaan dan pembinaan kepada pengelola masjid dan puluhan penceramah yang terpapar radikalisme.

    Baca: Survei 41 Masjid Terpapar Radikalisme, BIN: Ceramah Harus Sejuk


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.