Polisi Mulai Selidiki Dugaan Pemerkosaan Mahasiswi KKN UGM

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pemerkosaan. nation.com.pk

    Ilustrasi pemerkosaan. nation.com.pk

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyelidikan terhadap kasus dugaan pemerkosaan mahasiswi program kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) segera dilakukan. Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Brigadir Jenderal Ahmad Dofiri, mengatakan penyelidikan dilakukan sangat komprehensif dengan meminta keterangan sejumlah saksi, termasuk di tempat kejadian perkara. “Penyelidikan yang kami lakukan proaktif juga dengan Universitas Gadjah Mada,” tutur dia, Kamis, 15 November 2018.

    Baca: Polisi Akan Minta Keterangan Mahasiswi UGM Korban Pemerkosaan

    Dofiri mengatakan penyelidikan akan dimulai dengan mengumpulkan data dan meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk korban. Langkah itu penting untuk mengetahui duduk perkara kasus dugaan pemerkosaan tersebut. Selain menggandeng pihak UGM, penelusuran akan dikoordinasikan dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku, sesuai dengan lokasi dugaan pemerkosaan dilakukan.

    Pekan lalu, Polda DIY telah berkoordinasi dengan UGM untuk memulai penyelidikan. Rabu lalu, mereka juga sudah berkomunikasi dengan Polda Maluku. Menurut Dofiri, kerja sama dalam pengungkapan kasus ini penting untuk mempercepat penyelidikan. “Saya kira tidak terlalu sulit untuk kita melakukan penyelidikan itu, tunggu saja nanti,” ujar Dofiri.

    Perkara yang menimpa mahasiswi UGM berinisial Agni tersebut terjadi pada pertengahan tahun lalu. Mahasiswi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik tersebut diduga mengalami tindakan asusila oleh mahasiswa fakultas teknik berinisial HS saat melakukan KKN di Pulau Seram, Maluku. Kasus itu mencuat setelah korban membeberkan perlakuan asusila tersebut melalui lembaga pers mahasiswa UGM, Balairung Press, pada 5 November lalu.

    Baca: Cerita Pendamping Mahasiswi Korban Kekerasan Seksual di UGM

    Juru bicara dan protokoler Universitas Gadjah Mada, Iva Ariani, mengatakan sejak awal ingin membawa kasus yang menimpa Agni ke ranah hukum. Namun dia mengaku korban tak bersedia perkara tersebut berujung ke ranah pidana, sehingga kasus ini hanya diselesaikan oleh pihak kampus. “Sanksi kepada pelaku secara akademik sudah dan sedang dilakukan,” kata dia.

    Kriminolog dari UGM, Suprapto, menilai kasus yang menimpa Agni harus dicermati kembali mulai dari kronologi kejadian. Kemudian perlindungan dan jaminan keadilan harus dilakukan kepada korban berdasarkan kejadian. Menurut dia, memang lebih tepat perkara di bawah ke ranah hukum apabila hasil dari penelusuran pihak kampus belum bisa memuaskan. “Biar pihak yang berwenang yang memutuskan,” kata dia.

    Suharti, Direktur Rifka Annisa—lembaga perlindungan terhadap perempuan—mengingatkan, apabila kasus ini dibawa ke ranah hukum, penyelesaiannya harus mampu menjamin rasa keadilan terhadap korban. “Karena kasus-kasus kekerasan seksual tertentu, proses hukum memiliki kendala-kendala, khususnya dalam menjamin terpenuhinya hak-hak dan keadilan korban,” kata dia.

    MUH SYAIFULLAH | DANANG F.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.