Saat Said Didu Sebut Ada Genderuwo Ekonomi di 4 Sektor Ini

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Said Didu. TEMPO/Dinul Mubarok

    Said Didu. TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Said Didu mengatakan ada genderuwo ekonomi di empat sektor perekonomian. Pertama di sektor anggaran, termasuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), atau Daerah (APBD), kedua sektor migas, ketiga sektor penegakan hukum, dan keempat di sektor kebijakan di lingkup Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Terma genderuwo ekonomi yang dimaksud Said adalah para mafia.

    Baca juga: Dirut Pertamina Diganti, Said Didu: Sarat Kepentingan Politik

    Menurut Said Didu empat sektor ini adalah sektor yang paling rentan terhadap praktik mafia ekonomi, terutama di sektor migas. "Jadi sebenarnya sektor-sektor ini yang menjadi perhatian saja. Sektor migas itu paling besar, penguasaan lahan besar juga," kata dia kepada wartawan selepas acara Rabu Biru, di Media Ceter Prabowo - Sandiaga di Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Rabu 14 November 2018.

    Untuk mengatasi genderuwo ekonomi ini, kata Said Didu, hanya diperlukan orang-orang baik untuk melawannya. Cukup 20 orang, kata dia. Syaratnya, hanya takut kepada Tuhan. Negara akan sulit menghentikan praktik ini apabila orang-orang yang ditempatkan di sektor-sektor itu juga sesama mafia, atau yang Said sebut sebagai 'pengatur genderuwo'.
    "Maka sebagai pengatur pembagian rezeki para genderuwo, ya susah," ujar dia.

    Kekuatan untuk menghentikan para mafia ini, menurut dia, hanya dimiliki oleh orang yang sedang duduk di tampuk kekuasaan. Sebaliknya, bila dalam posisi tidak sedang berkuasa hanya kritik saja yang dapat dilakukan. Menurut Said, pelaku mafia ini selalu sama sejak lama. Berulang kali kepemimpinan berpindah tangan, tetapi mafia tetap sama.

    Said menjelaskan cara untuk menyetop mafia adalah dengan mengajak mereka melakukan kegiatan ekonomi secara jujur, mengikuti semua aturan, dan tidak memainkan lobi-lobi kekuasaan.

    Menurut Said Didu, tindakan persuasif diperlukan untuk mengatasi genderuwo ekonomi ini. Mereka perlu dihadapkan pada dua pilihan, ikut aturan atau bisnisnya dijegal pemerintah.

    "Caranya panggil baik-baik. 'Pilihan anda, anda mau terus bisnis ikuti aturan kami, atau kami akan menghentikan anda'," kata Said mengandaikan bila terjadi percakapan dengan para mafia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.