Tantangan Mengajar Generasi Milenial

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Generasi Milenial. phillipsandco.com

    Ilustrasi Generasi Milenial. phillipsandco.com

    INFO NASIONAL - Generasi milenial merupakan generasi siswa yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000. Meskipun beberapa siswa milenial telah putus sekolah atau lulus di universitas dan memasuki dunia kerja, namun sebagian besar dari mereka masih berada di dalam sistem sekolah.

    Rata-rata generasi milenial menghabiskan 6,5 jam setiap hari untuk membaca media cetak, elektronik, digital, broadcast, dan berita. Mereka mendengarkan dan merekam musik; melihat, membuat, dan mempublikasikan konten Internet; main video game; menonton televisi; berbicara di ponsel; dan membuat pesan instan setiap hari.

    Umumnya, orang-orang muda milenial memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Mereka suka memegang kendali, tidak mau terikat dengan jadwal tambahan, dan tidak terlalu suka duduk di ruang kelas untuk belajar atau di kantor untuk bekerja. Sebaliknya, mereka lebih suka menggunakan teknologi untuk belajar kapan saja, siang, atau malam, melakukan telekomunikasi dari mana saja dan mendefinisikan "keseimbangan" dengan cara masing-masing.
    2. Mereka suka pilihan. Di lingkungan berbasis proyek, generasi milenium menggunakan teknologi untuk menyelesaikan tugas dengan cara baru dan kreatif. Kebutuhan mereka akan metode alternatif untuk menyelesaikan tugas,  menghadirkan tantangan ketika menggunakan pengukuran tradisional untuk menentukan produktivitas.
    3. Mereka berorientasi pada kelompok dan sosial. Tanpa henti terekspos ke dunia melalui media, generasi milenial terus-menerus menjalin hubungan sosial. Secara pribadi, mereka melakukan perjalanan berkelompok, belanja, dan bermain bersama. Secara online, mereka mencari peluang untuk mengidentifikasi teman-teman dalam skala yang lebih kecil, bergabung dengan komunitas, dan bergaul dengan rekan-rekan di seluruh dunia. Mereka sangat kolaboratif, berbagi apa saja yang mereka pelajari dengan orang lain yang membantu mereka membuat identitas pribadi mereka sendiri.
    4. Mereka inklusif. Generasi millennial telah diajarkan untuk toleran. Mereka tidak dibatasi oleh informasi yang tersedia di perpustakaan lokal atau oleh pencarian linear dalam ensiklopedi. Sebaliknya, mereka menggunakan internet untuk mencari informasi di seluruh dunia dan menggunakan tautan hypertext untuk belajar tentang subjek baru.
    5. Mereka berpengalaman menggunakan teknologi digital. Generasi milenial adalah yang pertama dikelilingi oleh media digital. ICT selalu menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mereka mengharapkan media digital ini untuk mendukung pembelajarannya dan melakukan apa yang mereka butuhkan untuk dilakukan. Memang, generasi millennial dapat memanfaatkan lebih banyak fungsi ponsel, perangkat genggam, dan peralatan nirkabel lainnya.
    6. Mereka berpikir berbeda. Mereka menggunakan ICT untuk menemukan informasi yang mereka butuhkan.
    7. Mereka lebih cenderung mengambil risiko. Jika tidak berhasil, mereka akan mencoba dan mencoba lagi.
    8. Mereka menghargai waktu istirahat karena mereka memandang hidup sebagai tidak pasti.

    Tantangan Mengajar Generasi Millenial

    Ruang kelas telah berubah sejak generasi milenia dalam sistem sekolah hari ini. Kurikulum berkembang, dan metodologi pengajaran baru dikembangkan untuk menyesuaikan dengan karakteristik generasi yang menghabiskan banyak waktu dirangsang oleh media digital seperti halnya di sekolah.

    Guru yang mengajar dan mendidik generasi siswa milenial menghadapi tantangan berikut:

    1. Pembelajaran harus relevan dengan siswa. Belajar menjadi lebih berarti ketika mereka memahami aplikasi praktisi nformasi yang mereka terima. Konten harus spesifik, ringkas, dan cepat. Generasi milenial haus informasi dan akan mencarinya sendiri jika guru tidak menyajikan apa yang mereka anggap relevan. Karena begitu banyak informasi yang selalu tersedia, mereka tidak merasa perlu belajar setiap hal segera. Sebaliknya, mereka ingin diajari bagaimana dan di mana mereka dapat menemukan apa yang mereka butuhkan.
    2. Teknologi dapat mengalihkan perhatian. Meskipun generasi milenial paling tanggap teknologi tinggi. Penggunaan TIK di dalam kelas menuntut pendidik untuk menunjukkan bagaimana dan kapan menggunakan teknologi sebagai alat dengan tepat dan aman.
    3. Teknologi bisa mahal. Biaya yang terkait dengan penerapan sumber daya teknologi baru di lembaga akademis merupakan hal yang menakutkan. Pendanaan perangkat keras, perangkat lunak, infrastruktur, pengembangan profesional, dan dukungan teknis harus menjadi prioritas berkelanjutan. Biaya TIK berulang, seperti kebutuhan bagi para guru untuk dilatih berulang kali agar siap untuk menggunakan teknologi.
    4. Generasi milenial lebih andal dan terlalu banyak bekerja. Generasi paling terjadwal yang pernah ada, generasi milenial terdorong untuk berhasil tidak seperti generasi sebelumnya. Siswa sekolah menengah yang berprestasi tiba di kampus untuk menemukan dirinya tidak tertandingi, sehingga kadang mereka tidak menemukan manfaat untuk dua tahun pertama di pendidikan tinggi.
    5. Beberapa generasi milenial cenderung tidak melanjutkan pendidikan pasca sekolah menengah. Ketika pendidikan formal tidak menarik, mereka beralih ke kelompok karir yang memberikan pendidikan keterampilan, alih-alih masuk ke universitas. Meskipun mereka dapat bekerja di bisnis keluarga atau perdagangan, mereka masih memerlukan standar minimum keterampilan bisnis, komunikasi, kreatif, interpersonal dan teknis, serta etos kerja yang kuat dan integritas pribadi untuk berhasil.

    Studi tentang generasi milennium terus berjalan untuk mendeskripsikan populasi siswa yang unik ini. Sementara itu, sumber daya dan kebutuhan praktik terbaik pendidikan terus berkembang. Teknologi sudah berfungsi sebagai alat luar biasa untuk membentuk dan meningkatkan lingkungan belajar. Bersamaan dengan peralatan, keterampilan literasi digital mutlak diperlukan untuk memastikan teknologi digunakan untuk melengkapi, dan bukan menggantikan metode pengajaran berkualitas inggi. Berbagai instrumen penting disiapkan untuk membentuk lingkungan pembelajaran efektif bagi siswa. Guru-guru hebat yang menggunakan teknologi digital dengan keterampilan komputasi bersertifikasi, akan menjadi pendidik paling kuat di abad ke-21. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.