Selasa, 13 November 2018

Drajad: Prabowo - Sandiaga Akan Pecahkan Deadlock Ekonomi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengamat ekonomi dan wakil ketua Partai Amanat Nasional Drajad Wibowo (kiri) bersama dua mantan Menteri Koordinator Perekonomian Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli (kanan), saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR, di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Imam Sukamto

    Pengamat ekonomi dan wakil ketua Partai Amanat Nasional Drajad Wibowo (kiri) bersama dua mantan Menteri Koordinator Perekonomian Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli (kanan), saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR, di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar ekonomi Drajad Wibowo mengatakan jika Prabowo - Sandiaga  terpilih pada 2019, angka pertumbuhan ekonomi yang tertahan di angka 5 persen akan naik.

    Baca juga: Tim Prabowo Protes Orasi Bupati di Aksi Save Tampang Boyolali

    Menurut Drajad minimal pada 2020 angka pertumbuhan ekonomi menjadi 6% atau 6,5%. “Kami akan memecahkan deadlock di ekonomi Indonesia yang sekarang tertahan di 5%,” kata dia dalam diskusi di Media Center Prabowo - Sandiaga, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Jumat 9 November 2018.

    Drajad mengatakan ada tiga cara untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi kita. Pertama melalui kebijakan pemerintah. Menurutnya perlu ada kebijakan pemerintah yang pro bisnis, dan pertumbuhan ekonomi.

    Ia mencontohkan, kasus ketidakberpihakan pemerintah pada industri. Sebuah perusahaan rugi karena terlanjur berinvestasi besar-besaran, namun tertahan karena terganggu oleh izin lahan.

    Kedua, Drajad mengatakan Prabowo - Sandiaga akan fokus mengembangkan pertanian dan sektor pedesaan. Termasuk di dalamnya stabilisasi harga bahan makanan. Stabilisasi ini, kata dia, bukan hanya untuk konsumen tetapi juga untuk petani. Caranya adalah dengan memberi peran yang signifikan kepada Bulog, yaitu mengamankan harga ketika musim panen tiba.

    Ketiga, adalah reformasi pajak. Nominal pajak akan diturunkan agar banyak orang yang rela membayar pajak. Cara ini diklaim akan sukses meningkatkan rate efektif penerimaan pajak. “Tentu akan ada penegakan pajak tanpa menakut-nakuti. Yang kemarin ini kan orang ditakut-takuti. Sehingga akhirnya uangnya disembunyikan,” ungkap Drajad. “Jadi itulah yang akan kami lakukan,” ujar dia.

    Baca juga: Prabowo Ibaratkan Masalah Indonesia Seperti Kolesterol dan Dokter

    Sebelumnya, mantan Menteri Ekonomi era Gus Dur, Rizal Ramli menyatakan ekonomi Indonesia saat ini tertahan di angka 5%. Jauh lebih rendah ketimbang ekonomi Indonesia pra krisis moneter tahun 1997, yang mencapai 6% sampai 7%


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?