Jumat, 14 Desember 2018

Rilis soal Rizieq Shihab Disebut Hoax, Dubes: Itu Benar dari Saya

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar RI, Agus Maftuh Abegebriel, kedua dari kiri, melakukan pemeriksaan terhadap armada bus yang akan membawa Jamaah Haji Indonesia ke Hotel Madinah. Sumber: KBRI Riyadh, Arab Saudi

    Duta Besar RI, Agus Maftuh Abegebriel, kedua dari kiri, melakukan pemeriksaan terhadap armada bus yang akan membawa Jamaah Haji Indonesia ke Hotel Madinah. Sumber: KBRI Riyadh, Arab Saudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengkonfirmasi kebenaran rilis tertulis tentang Rizieq Shihab yang sempat ditangkap otoritas keamanan Arab Saudi. Penegasan soal ini dilakukan Agus setelah beberapa pihak menyebut keterangan tersebut hoax karena sejumlah kejanggalan.

    Baca: Cerita Repotnya Dubes RI untuk Saudi saat Rizieq Shihab Ditangkap

    "Rilis tersebut benar dari saya, Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Arab Saudi dan Wakil Tetap RI di Organisasi Kerjasama Islam (OKI)," ujar Agus dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 8 November 2018.

    Pada Rabu, 7 November 2018, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh mengeluarkan keterangan tertulis berisi 10 poin tentang penangkapan Rizieq Shihab di Arab Saudi. Imam besar FPI itu sebelumnya dikabarkan telah diperiksa dan ditahan oleh kepolisian Arab terkait pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstremis. Dari foto yang beredar, bendera tersebut terpasang di dinding belakang kediaman Rizieq di Arab.

    Simak juga: Rizieq Shihab dari Berangkat Umrah sampai Terbelit Kasus Bendera Hitam

    Keterangan tertulis yang dikeluarkan KBRI ini dinilai sebagian kalangan sebagai surat hoax. Beberapa pihak menuding surat itu hoax dari beberapa ciri-ciri. Pertama, kop surat bertuliskan duta besar, namun seharusnya kedutaan besar. Kedua, yakni stempel berlambang garuda yang tertutup tanda tangan. Ketiga, penyingkatan nama yang tidak konsisten dengan menggunakan MRS dan HRS, serta salah ketik dalam surat.

    Agus mengatakan KBRI Riyadh merilis surat keterangan ini dalam dokumen PDF dan dokumen Microsoft Word. Menurut dia, keterangan yang beredar di media sosial itu merupakan hasil scan dari dokumen PDF. "Rilis asli tersebut dalam bentuk PDF langsung dan bukan hasil scan. Edisi JPEG, JPG atau BMP yang beredar adalah hasil convert dari kreatifitas netizen," katanya.

    Baca: 10 Poin Keterangan Dubes RI Soal Penangkapan Rizieq Shihab

    Menurut Agus, tanda tangan yang dipermasalahkan itu juga merupakan tanda tangan aslinya. Dia menjelaskan tanda tangan ini dibuat dengan perangkat Stylus Digitizer bawaan laptop Microsoft Surface Pro-4. "Microsoft Surface ini memungkinkan saya untuk membubuhkan tanda tangan langsung di layar komputer dengan dukungan warna yang sudah ada di software," ucapnya.

    Agus juga menjelaskan tak ada masalah dalam kop surat yang bertuliskan Duta Besar Republik Indonesia. Dia menuturkan ada tiga jenis kop surat resmi yang biasa digunakan kedutaan besar, yakni bersi Indonesia, Inggris, dan Arab. "Kop seperti ini juga pernah saya gunakan untuk rilis ketika Al Habib Mohammad Rizieq Shihab saat diberitakan terkena pencekalan dan terkait posisi visanya," tuturnya.

    Dalam rilis keterangan penangkapan Rizieq, Agus menuturkan KBRI Riyadh berpegang pada objektivitas. Sebagai duta besar, dia mengatakan tak pernah membedakan setiap Warga Negara Indonesia yang berada di Arab Saudi. "Dalam melayani para ekspatriat Indonesia di Arab Saudi, saya sebagai pelayan WNI tidak pernah melakukan diskriminasi dan mempermasalahkan partai atau mazhab apapun," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.