Kiai Syam'un, Pahlawan Nasional dari Pesantren di Banten

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelaurga berziarah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta,  TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Kelaurga berziarah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta, TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Selain sebagai tokoh perjuangan, Syam'un turut dikenal sebagai pemuka agama di Banten. Sejak umur 11 tahun, dia sudah menimba ilmu di Mekah dan Mesir selama 10 tahun. Dia merupakan lulusan sekolah Al-Alzhar di negeri piramid itu.

    Setelah kembali ke Indonesia, dia mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Perguruan Tinggi Islam Al-Khairiyah Citangkil. Nama pesantren ini diambil dari nama bendungan di Sungai Nil, Mesir, yang bernama Al-Khairiyah.

    Simak: Calon Pahlawan Nasional A.R. Baswedan: Menggalang Keturunan Arab

    Pada awal kemerdekaan, Syam'un yang diusulkan menjadi pahlawan nasional pun kembali berjuang dalam perang saat meletusnya Agresi Militer Belanda II. Pria kelahiran 5 April 1894 di Serang, Banten, ini bergeriliya dari Gunung Karang, Pandeglang hingga kampung Kamasan, Cinangka, Serang. Syam'un wafat di kampung Kamasan pada tahun 1949. Dia meninggal karena sakit saat memimpin perang gerilya di hutan sekitar Kamasan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.