Kamis, 15 November 2018

Pahlawan Nasional Depati Amir: Melawan Belanda Meski Diasingkan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memimpin upacara apel kehormatan dan renungan suci di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Timur, pada Jumat, 17 Agustus 2018 tepat pukul 00.00 WIB. Foto: Biro Pers Setpres/Muchlis Jr

    Presiden Joko Widodo memimpin upacara apel kehormatan dan renungan suci di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Timur, pada Jumat, 17 Agustus 2018 tepat pukul 00.00 WIB. Foto: Biro Pers Setpres/Muchlis Jr

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa tokoh dari berbagai daerah di Indonesia. Pemberian gelar pahlawan nasional ini dalam rangka Hari Pahlawan pada 10 November 2018. "Direncanakan penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk enam orang," ujar Dirjen Pemberdayaan Sosial Kemensos Pepen Nazaruddin, Rabu, 7 November 2018.

    Simak: Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Begini Kisah Depati Amir

    Salah satu orang yang akan diganjar gelar pahlawan nasional ini adalah Depati Amir. Dia merupakan tokoh perlawanan rakyat kepada Belanda dari Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

    Sejarawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, mengatakan Depati merupakan jabatan yang diberikan kepada Amir. "Pemerintah Belanda yang takut dengan pengaruh Amir di hari rakyat Bangka, mencoba mengurangi pengaruh Amir dengan memberikan jabatan Depati," kata Akhmad dalam bukunya 'Riwayat Hidup dan Perjuangan Depati Amir'.

    Akhmad mengatakan Amir diminta menggantikan ayahnya, Depati Bahrain, untuk menguasai daerah Jeruk ditambah Mendara dan Mentadai di Pulau Bangka. Selain merupakan orang berpengaruh, Amir dikenal dengan 30 pengikutnya yang menumpas para perompak di perairan Pulau Bangka. "Depati Amir juga tokoh yang telah memulihkan keamanan di tengah masyarakat," kata Akhmad.

    Di Kepulauan Bangka, Amir dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap Belanda. Ia menentang pemberlakuan peraturan tentang monopoli perdagangan timah. Monopoli ini menyebabkan penyimpangan dan kecurangan dalam tata niaga timah yang membuat rakyat Bangka menderita dan sengsara.

    Belanda juga menerapkan kerja paksa yang menekan rakyat bekerja tanpa dibayar. Selain itu, sikap Belanda yang tidak mengakui sistem adat dan hukum adat Sindang Mardika yang saat itu berlaku di Bangka, membuat semangat melawan Belanda semakin tak terbendung.

    Depati Amir mulai memberontak dan melawan Belanda pada 1830. Peperangan semakin menjadi-jadi setelah tiga keluarga dan empat pengikutnya ditangkap dalam penyergapan Belanda di rumahnya. Depati Amir beruntung lolos dari upaya penangkapan ini.

    Cerita Depati Amir yang ditangkap Belanda karena ada pengkhianat


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.