Selasa, 20 November 2018

Survei Alvara: Soal Kreativitas, Sandiaga Uno Ungguli Jokowi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, menjawab pertanyaan warganet tentang ekonomi melalui live Instagram, di kediamannya, Jalan Pulombangkeng, Jakarta Selatan, Sabtu, 27 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, menjawab pertanyaan warganet tentang ekonomi melalui live Instagram, di kediamannya, Jalan Pulombangkeng, Jakarta Selatan, Sabtu, 27 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno dianggap lebih kreatif ketimbang lawannya calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi.

    Baca juga: Ke Pasar di Palu, Sandiaga Beli Tempe Pakai Duit Rp 100 Ribu

    Dalam survei yang digelar Alvara Research Center, Sandiaga Uno unggul secara kreatifitas dengan perolehan 62 persen, dan Jokowi menempati urutan kedua dengan 59,8 persen.

    Kreatifitas atau creativity yang dimaksud dalam survei ini adalah menggunakan cara-cara kreatif dalam berkomunikasi dengan pemilih.

    Di bawah Jokowi ada Prabowo Subianto dengan perolehan 50,2 persen dan Ma'ruf Amin sebesar 34,3 persen. "Sandiaga Uno unggul di creativity," kata CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali di Jakarta, Selasa, 6 November 2018.

    Alvara Research Center menggelar survei nasional pada 8-22 Oktober 2018. Dalam survei ini, Alvara mengukur bagaimana publik menilai masing-masing kandidat dalam mendekati pemilih milenial melalui lima indikator yaitu Practicality, Authenticity, Novelty, Interactivity, dan Creativity [PANIC].

    Hasilnya, calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi unggul di tiga indikator, yakni authenticity, practicality, dan interactivity.

    Untuk indikator novelty, elektabilitas calon wakil presiden penantang-nya, Sandiaga Uno imbang dengan Jokowi. Sementara dari indikator creativity, Sandiaga unggul dari Jokowi.

    "Jokowi unggul dalam authenticity dan practicality, keduanya bersaing ketat dalam indikator novelty dan interactivity", ujar Hasanuddin Ali.

    Sandiaga Uno memang acap menyebut istilah tak biasa saat berkampanye. Mulai dari melontarkan istilah tempe setipis kartu ATM untuk membahasakan ekonomi lesu. Istilah politik teletubbies untuk menyebut kampanye yang damai dan bersahabat, serta istilah lainnya. Pengamat politik mengatakan gaya komunikasi Sandiaga Uno ini sebagai politik dumbing down, yakni tren istilah yang muncul di Eropa dalam 10 tahun ini untuk menyederhanakan kalimat politik yang sangat serius.

    Adapun dari sisi practicality, yakni kemampuan kandidat menggunakan bahasa yang konkret, membumi dan terukur. Dalam hal ini, Jokowi lebih unggul dengan 62,4 persen dibandingkan Prabowo Subianto 45 persen, sementara Sandiaga Uno mendapat indeks 44,7 persen dan Ma'ruf Amin 33,7 persen.

    Dari sisi authenticity, yakni kandidat tampil apa adanya, dan pencitraan tidak berlebihan, Jokowi unggul dengan nilai sebesar 87 persen disusul oleh Ma'ruf Amin sebesar 67,9 persen, Sandiaga Uno mendapatkan nilai sebesar 57,5 persen dan Prabowo Subianto sebesar 52,9 persen.

    Baca juga: Sandiaga ke Kabupaten Tangerang Dikepung Emak-emak

    Selanjutnya, Novelty, yakni kemampuan kandidat memiliki ide dan gagasan baru. Dalam hal ini, Jokowi dan Sandiaga Uno bersaing ketat dengan sama-sama mendapatkan nilai sebesar 60,8 persen, diikuti oleh Prabowo Subianto dan Ma'ruf Amin sebesar 40,6 persen.

    Dari sisi, interactivity atau komunikasi kandidat lebih interaktif, tidak sekedar komunikasi satu arah. Jokowi unggul dengan nilai 60,3 persen diikuti oleh Sandiaga Uno 58,9 persen, Prabowo 50 persen dan Ma'ruf Amin 38,6 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.