Jumat, 16 November 2018

Sosiolog Anggap Tampang Boyolali Isu Tak Substansial di Pilpres

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demo Tampang Boyolali. Diambil dari cuplikan video Youtube.com/@Diezpung Chanel

    Demo Tampang Boyolali. Diambil dari cuplikan video Youtube.com/@Diezpung Chanel

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, menilai pidato Prabowo Subianto soal tampang Boyolali menambah panjang daftar peluang perisakan atau bullying terhadap calon presiden nomor urut 02 itu. Aksi perisakan tersebut bisa berasal dari kubu lawan atau langsung dari masyarakat.

    Baca: Ribuan Orang Protes Candaan Prabowo Soal Tampang Boyolali

    "Seperti kontroversi-kontroversi yang lalu, temanya menjatuhkan, enggak substansial," kata Sunyoto kepada Tempo pada Senin, 5 November 2018. Menurut Sunyoto, imbas pidato yang menuai polemik itu makin menihilkan edukasi politik dalam kontestasi pemilihan presiden 2019.

    Kontroversi yang muncul dari pidato wajah Boyolali ini pun dianggap menggambarkan atmosfer pilpres 2019 tak memiliki muatan yang substansial. Dalam pandangan Sunyoto, pada pilpres kali ini, masyarakat jor-joran disuguhi oleh isu-isu dengan kualitas rendah. Temuan-temuan para capres untuk melawan kubu lawan pun ia nilai tidak relevan dengan kontestasi.

    Serangan 'receh', menurut Sunyoto, dilakukan oleh kedua kubu. Terlepas dari kontroversi pidato Boyolali, ia mencontohkan serangan-serangan calon terhadap harga pasar kurang menggairahkan. Sebab, masing-masing capres hanya memaparkan temuan tanpa menyuguhi alternatif pemecahannya.

    Baca: Tim Prabowo Duga Ada 3 Pelanggaran di Aksi Save Tampang Boyolali

    "Enggak ada edukasi. Kesannya ini hanya saling menjatuhkan tanpa ada solusi," ucap Sunyoto. Situasi politik demikian pun dipandang tak jauh berbeda dengan kondisi pilpres 2014. Sama dengan 5 tahun lalu, masyarakat makin leluasa untuk mengeksplorasi hal-hal tidak substansial dari masing-masing calon.

    Bila capres ingin meningkatkan kualitas kontestasi pilpres, Sunyoto mengimbau keduanya menyuguhkan program-program yang solutif. Jika hal itu tidak dilakukan, situasi yang sama akan dirasakan masyarakat sampai akhir masa pilpres pada April 2019.

    "Akan berpotensi muncul konflik-konflik baru yang tak substansial seperti sekarang," katanya. Dampaknya, klaim terhadap nilai-nilai yang lebih demokratis itu akan dipertanyakan masyarakat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.