Kamis, 15 November 2018

Suara Agamawan dan Budayawan Soal Perusakan Sedekah Laut

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah peserta kirab mengiringi jolen berisi kepala sapi untuk dilarung pada prosesi Sedekah Laut 2012 di Teluk Penyu Cilacap, Jateng, (7/12). ANTARA/Idhad Zakaria

    Sejumlah peserta kirab mengiringi jolen berisi kepala sapi untuk dilarung pada prosesi Sedekah Laut 2012 di Teluk Penyu Cilacap, Jateng, (7/12). ANTARA/Idhad Zakaria

    TEMPO.CO, Jakarta - Acara sedekah laut di Bantul yang dirusak sekelompok orang beberapa waktu lalu, membuat agamawan dan budayawan risau.

    Baca juga: GKR Hemas Menilai Pelarangan Sedekah Laut Upaya Merusak Budaya

    Dalam Sarasehan agamawan dan budawan yang digelar Kementerian Agama pada 2-3 November 2018 di Omah Tembi, Bantul, Yogyakarta kerisauan itu disampaikan di depan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sabar mendengarkan masukan dari para agamawan dan budayawan hingga jelang tengah malam pada hari pertama sarasehan. Ia tak beranjak dari acara itu hingga acara rampung.

    Pertemuan itu menghadirkan sejumlah tokoh di antaranya Cendekiawan muslim Profesor M. Amin Abdullah, Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede Yogyakarta, KH Abdul Muhaimin, Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Munawaroh atau Alissa Wahid, Bhikkhu Sri Pannavaro, sastrawan Putu Setia, budayawan Radhar Panca Dahana, penyair Acep Zamzam, sastrawan Agus Noor, perupa Nasirun, budayawan Sudjiwo Tejo, dan tokoh dari kalangan media massa Wahyu Muryadi.

    Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede Yogyakarta, KH Abdul Muhaimin, dalam forum itu menyebutkan perusakan sedekah laut menggambarkan agama dipahami sebagai sesuatu yang dogmatis.

    Selain perusakan tradisi sedekah laut yang sudah berlangsung puluhan tahun, Kiai Muhaimin juga menyampaikan serangan terhadap waria Pondok Pesantren Al-Fatah di Yogyakarta. Kiai Muhaimin dikenal sebagai orang yang getol membela hak-hak beribadah waria di Ponpes Al-Fatah. "Saya tegaskan saya membela hak beribadah waria. Saya kenyang dituduh kafir dan liberal," kata Kiai Muhaimin.

    Baca juga: Sekjen NU Kecam Teror Acara Sedekah Laut di Yogyakarta

    Penyair Acep Zamzam juga menyatakan kegelisahannya ihwal kesenian yang dipisah-pisahkan dari agama sehingga orang mudah mengkafir-kafirkan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, dia menyebut sejumlah masjid dikuasai kelompok-kelompok intoleran. "Orang gemar mengkafir-kafirkan dan menganggap seni budaya sebagai bid'ah," kata dia.

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan benturan budaya dan agama yang terjadi belakangan ini akan merusak Indonesia. "Kementerian Agama harus menyikapinya. Kalau tidak, ke-Indonesiaan kita bisa runtuh," kata Lukman di Yogyakarta.

    Kementerian Agama mengundang kalangan agamawan dari semua agama yang ada di Indonesia dan budayawan untuk mendapat masukan dari tokoh agama dan budaya untuk melihat hubungan yang lebih baik atau harmonis antara agama dan budaya. Indonesia menurut Lukman sangat khas karena kaya berbagai ragam budaya. Indonesia sekaligus masyarakat agamis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.