Survei: Efek Bakpao Setya Novanto Rugikan Golkar di Pemilu 2019

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR RI, Setya Novanto dan juga tersangka kasus E-KTP saat tiba di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, 19 November 2017. Setya Novanta di bawa ke ke KPK setelah menjalani rawat inap di RSCM setelah mengalami kecelakaan. TEMPO/Amston Probel

    Ketua DPR RI, Setya Novanto dan juga tersangka kasus E-KTP saat tiba di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, 19 November 2017. Setya Novanta di bawa ke ke KPK setelah menjalani rawat inap di RSCM setelah mengalami kecelakaan. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memprediksi Partai Golkar bakal mengalami penurunan performa dalam Pemilu 2019. Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan dari hasil survei lembaganya, Partai Golkar terkena efek bakpao sehingga elektabilitasnya di 10 provinsi besar menurun.

    "Efek bakpao ini muncul dari kasus Setya Novanto yang menabrak tiang listrik dan mengklaim dahinya benjol sebesar bakpao," kata Adjie saat konferensi pers hasil survei LSI Denny JA tentang Pertarungan Partai Politik di 10 Provinsi Terbesar di kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur pada Jumat, 2 November 2018.

    Baca: Survei: PDIP, Gerindra, Golkar Tiga Besar di Pemilu 2019

    Kasus itu bermula dari kecelakaan yang dialami oleh Setya Novanto pada November 2017 lalu saat mantan Ketua DPR itu dalam pencarian KPK berkaitan dengan kasus korupsi e-KTP. Kecelakaan itu dirancang oleh pengacara Setya, Fredrich Yunadi supaya Setya terhindar dari proses hukum yang membelitnya. Fredrich sudah divonis bersalah atas perbuatan menghalangi penyidikan.

    Atas terbongkarnya skenario ini, Golkar lantas mendapat efek tak sedap. Menurut Adjie, kasus itu menurunkan wibawa partai bergambar beringin tersebut. "Wibawa Partai Golkar jatuh dan kini sulit bangkit," ujarnya.

    Angka elektabilitas Golkar menurun di beberapa kota besar. LSI mencatat, persentase partai ini di Jawa Barat mengalami penurunan perolehan suara lebih-kurang 5 persen dari Pemilu 2014. Golkar yang 5 tahun lalu meraup elektabilitas 16,7 persen di Jawa Barat kini suaranya tinggal 11,3 persen.

    Baca: Survei Charta Politika: Elektabilitas Partai Golkar Bakal Stagnan

    Lantas, di Jawa Timur, suara partai ini menurun drastis dua kali lipat. Dari yang semula 10,7 persen, partai itu kini hanya mengantongi 5,2 persen elektoral. Kemudian di Jawa Tengah, suara Golkar merosot 10 persen, yakni dari 14,2 persen menjadi 4,2 persen.

    Kondisi itu tak jauh berbeda dengan di daerah pemilihan Sumatera Utara. Golkar yang pada 2014 berhasil mengantongi 16,4 persen suara kini hanya mampu meraup 6,7 persen pemilih.

    Begitu juga dengan di Banten, Lampung, Sumatera Selatan, dan Riau. Perolehan suara Partai Golkar merosot tajam. Hanya di Sulawesi Selatan partai ini masih eksis. Di sana, Golkar mendapat perolehan suara 23,5 persen. Angka ini naik 3 persen dari Pemilu 2014 yang hanya 20,1 persen.

    Baca: Elektabilitas Partai Golkar Merosot Berdasarkan Survei Alvara

    Selain karena efek kasus Setya Novanto, Adjie mengatakan Partai Golkar sulit bersaing dengan PDI Perjuangan di gabungan partai koalisi pendukung Joko Widodo - Ma'ruf Amin. Partai Golkar hampir tak mendapat efek elektoral Jokowi karena suara PDIP lebih mendominasi.

    Tak cuma itu, buruknya struktur di internal Partai Golkar turut menjadi penghambat laju perolehan suara. Adjie menilai struktur pengurus partai itu tidak solid.

    Survei teranyar LSI Denny JA dilakukan dalam kurun 10 hari, yakni mulai 4 hingga 14 Oktober 2018. Survei tersebut dilakukan di 10 provinsi. Di antaranya Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, dan Riau.

    LSI menggaet 600 responden di masing-masing provinsi. Jumlah keseluruhan responden dalam survei itu 6.000 orang dengan margin error per provinsi lebih-kurang 4,1 persen. Survei ini dilakukan secara tatap muka, bukan dengan media sosial atau telepon.

    Baca: Idrus Marham Bantah Minta Uang untuk Munaslub Golkar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.