Jumat, 16 November 2018

Berlaga di Ajang Good Design Award Jepang, Produk Indonesia Sukses Sabet Gelar

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berlaga di Ajang Good Design Award Jepang, Produk Indonesia Sukses Sabet Gelar

    Berlaga di Ajang Good Design Award Jepang, Produk Indonesia Sukses Sabet Gelar

    INFO NASIONAL - Produk-produk Indonesia sukses berlaga pada kompetisi desain berskala internasional. Sebanyak tujuh produk yang difasilitasi Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, menyabet penghargaan bergengsi di ajang Good Design Award (G-Mark) ke-62 yang diselenggarakan di Hotel Grand Hyatt, Tokyo, Jepang pada Rabu, 21 Oktober 2018.

    Pada ajang G-Mark tahun ini, produk Sepeda Bambu karya Singgih Kartono berhasil menyabet penghargaan G-Mark Best 100. Sedangkan produk Indonesia lainnya meraih G-Mark Good Design, yaitu mobil Daihatsu Terios karya Mark Widjaja; Kursi Lukis Armchair karya Abie Abdillah; Kain Bamboo Batik Stole karya Lusiana Limono; Arang Gambar(Charcoal) karya Jindee Chua, Suriawati Qiu, dan Merlins; Lubang Angin ‘Dashdot’ karya Zenin Adrian; serta Cold Drip Coffee Maker karya Ronald Malone.

    “Kami turut bangga dengan keberhasilan produk-produk tersebut menjadi pemenang G-Mark 2018. Diharapkan, dengan keberhasilan internasional ini, dapat membuka peluang bagi produk dalam negeri untuk diterima di berbagai pasar ekspor, terutama Jepang yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia,” ujar Direktur Jenderal PEN Arlinda.

    Pada ajang G-Mark tahun ini, terdapat 17 produk Indonesia yang difasilitasi oleh Ditjen PEN. Dari jumlah tersebut, 14 di antaranya merupakan pemenang Good Design Indonesia (GDI) tahun 2017 dan 2018 untuk kategori GDI of the Year dan GDI Best. Sementara tiga produk lainnya, mengikuti G-Mark melalui ajang ASEAN Design Selection, yang merupakan kerja sama antara Ditjen PEN dengan ASEAN-Japan Center (AJC).

    “Kementerian Perdagangan, dalam hal ini Ditjen PEN, berkomitmen mendukung pengembangan sektor desain di dalam negeri. Untuk itu, kami mendorong para pelaku usaha dapat berkolaborasi dengan desainer-desainer dalam negeri yang sudah banyak berprestasi di ajang berskala internasional,” tutur Arlinda.

    Menurut Arlinda, untuk mendongkrak kinerja ekspor nonmigas, produk Indonesia harus memiliki nilai tambah dan daya saing.

    “Di sinilah peran suatu desain yang kreatif dan inovatif, yaitu mampu menciptakan produk-produk yang tidak hanya unggul dari sisi bahan baku, tetapi juga mampu menyesuaikan dengan tren dan selera konsumen dunia yang dinamis,” ucapnya.

    Dalam dua tahun penyelenggaraan GDI, terlihat adanya peningkatan antusiasme desainer lokal dan pelaku usaha dalam negeri untuk berpartisipasi pada perhelatan berskala nasional ini.

    Tercatat sebanyak 253 produk yang didaftarkan selama masa pembukaan registrasi daring GDI 2018. Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan signifikan sebesar 88,8 persen dibandingkan GDI 2017 dengan jumlah peserta hanya 134.

    Ditjen PEN telah mengagendakan kembali penyelenggaraan GDI ke-3 yang rencananya akan dimulai Januari 2019 mendatang. Sama seperti sebelumnya, pendaftaran akan dibuka secara daring melalui situs id-designmark.org.

    Melalui kerja sama antara Ditjen PEN dan Japan Institute of Design Promotion (JDP) sebagai pihak penyelenggara Good Design Award, produk-produk lokal yang berhasil meraih anugerah GDI akan akan langsung dinyatakan lolos seleksi G-Mark tahap pertama dan dapat langsung mengikuti seleksi tahap ke-2. Selanjutnya, Ditjen PEN memfasilitasi produk-produk pemenang mulai dari pendaftaran G-Mark, pengiriman produk ke Jepang, partisipasi pada pameran G-Mark, hingga pengiriman kembali produk-produk ke Indonesia.

    “Pendaftaran GDI tahun depan akan dibuka mulai bulan Januari 2019. Masa pendaftaran yang lebih awal ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan pelaksanaan penjurian tahap ke-2 Good Design Award di Jepang, yang berlangsung pada akhir Juli atau awal Agustus setiap tahunnya,” kata Arlinda. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.