FPI Klaim Tak Ada Tuntutan Pembubaran Banser di Aksi Bela Tauhid

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif saat berbicara kepada awak media di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Kamis, 25 Oktober 2018. TEMPO/Syafiul Hadi

    Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif saat berbicara kepada awak media di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Kamis, 25 Oktober 2018. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Front Pembela Islam Slamet Maarif mengatakan tak ada tuntutan pembubaran Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam aksi bela tauhid yang akan digelar pada Jumat, 2 November 2018. Slamet mengatakan isu adanya tuntutan itu adalah hoaks.

    Baca: Aksi Bela Tauhid di Bandung Tuntut Pembakar Bendera Diadili

    "Itu hoaks yang dilempar pihak-pihak tertentu yang ingin menggagalkan dan mengadu domba umat Islam. Saya pastikan tidak ada tuntutan pembubaran Banser," kata Slamet di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis malam, 1 November 2018.

    Slamet mengatakan, isu itu beredar lantaran meme yang dibuat oleh panitia aksi diedit oleh pihak lain. Dia mengklaim aksi nanti akan berfokus pada tuntutan penegakan hukum atas kejadian pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di Garut pada peringatan Hari Santri Nasional pekan lalu.

    Menurut Slamet, aksi ini akan meminta pemerintah mengakui bendera hitam yang dibakar itu merupakan bendera tauhid. Dia beralasan, selama ini pemerintah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU menyebut bendera tersebut adalah bendera ormas tertentu.

    Baca: Wakapolri: Pembakar Bendera Sudah Diproses Hukum, Kenapa Demo?

    "Kami akan menuntut adanya pengakuan dari pemerintah, dari negara bahwa betul bendera yang dibakar bendera tauhid," kata dia.

    Slamet menerangkan aksi bela tauhid hari ini akan dimulai dari Masjid Istiqlal. Dia mengklaim ada sekitar 10 ribu massa aksi yang akan terlibat.

    Dia juga mengklaim bakal mengoptimalkan pengamanan jalannya aksi dari kepentingan-kepentingan politis, semisal adanya atribut ganti presiden. Namun, Slamet mengakui jika massa terlalu banyak panitia pun akan kewalahan mengontrol. "Kalau massanya ratusan ribu, kami punya keterbatasan mengontrol itu semua," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?