Selasa, 18 Desember 2018

Meski Satu Black Box Lion Air Ditemukan, TNI AL Tetap Siaga Penuh

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyelidik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat memeriksa puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 1 November 2018. Pemeriksaan tersebut dilakukan guna mengidentifikasi puing pesawat Lion Air JT 610. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Penyelidik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat memeriksa puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 1 November 2018. Pemeriksaan tersebut dilakukan guna mengidentifikasi puing pesawat Lion Air JT 610. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono mengatakan pasukannya tetap bersiaga untuk mendukung pencarian badan pesawat, korban, hingga kotak hitam alias black box Lion Air JT 610. Meskipun, mereka telah menemukan dan mengangkat salah satu bagian black box.

    Baca: KNKT: Black Box Lion Air JT 610 Terbelah Akibat Benturan Keras

    "Baik KRI, maupun para penyelam dari Pasukan Intai Amfibi, Komando Pasukan Katak, serta Dinas Penyelamatan Bawah Air masih tetap bersiaga dengan kapal sea rider dan sekoci yang ada," kata Yudo di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 1 November 2018.

    Walau salah satu kotak hitam sudah ditemukan, Yudo mengatakan lokasi tepat dari badan pesawat Lion Air JT 610 masih belum ditemukan. Ia mengatakan pasukannya bersama Basarnas masih terus mencari keberadaan pesawat keluaran Boeing itu. "Masih dicari, kalau sudah ketemu akan kami sampaikan," kata Yudo. "Di bawah kendali Basarnas kami melaksanakan tugas ini selama 24 jam."

    Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 itu hilang kontak dan jatuh ke perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 29 Oktober 2018. Sejak pesawat itu dinyatakan jatuh, pasukan gabungan di bawah komando Basarnas langsung melakukan pencarian.

    Selain badan kapal, Yudo mengatakan pasukannya terus berupaya menemukan satu kotak hitam lagi. Ia menyebut keberadaan kotak hitam lainnya kemungkinan tidak di area yang sama dengan penemuan kotak hitam pertama, sehingga pasukan akan berpindah lokasi. Untuk menemukan lokasi itu, mereka masih akan menggunakan bantuan remotely operated underwater vehicle alias ROV.

    Salah seorang penyelam TNI Angkatan Laut Sersan Satu Marinir Hendra Syahputra mengatakan belum melihat tanda-tanda keberadaan badan pesawat kala ia menyelam mencari kotak hitam. "hanya ada puing-puing saja, terpisahnya lumayan jauh," kata dia. Puing yang ia temukan itu berukuran panjang sekitar setengah meter.

    Sebelumnya, berbekal alat pendeteksi black box yang dipinjamkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Hendra dan rekannya, Kopral Dua Nur Ali, menyelam ke kedalaman 35 meter di bawah permukaan laut guna mencari keberadaan kotak hitam. Hendra menemukannya saat menyelam di kedalaman 35 meter, dengan koordinat S 05 48 48.051 - E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545 - E 107 07 38.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan ada dua macam black box yang terdapat pada pesawat. Pertama yaitu perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR). Kedua adalah perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR).

    Simak: RS Polri: Tak Ada Luka Bakar pada Jasad Korban Lion Air JT 610

    Saat ini, Tim baru menemukan black box Lion Air JT 610 yang merekam data penerbangan atau FDR. "Black box tersebut langsung dibawa ke Tanjung Priok dan dilakukan suatu evaluasi," kata Budi Karya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.