Rapat Terakhir Sang Ketua RT Korban Lion Air JT 610

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan serpihan pesawat Lion Air JT-610 dan barang-barang yang diduga milik korban, di Posko Evakuasi di JICT II Tanjung Priok, Jakarta, 29 Oktober 2018. ANTARA

    Petugas menunjukkan serpihan pesawat Lion Air JT-610 dan barang-barang yang diduga milik korban, di Posko Evakuasi di JICT II Tanjung Priok, Jakarta, 29 Oktober 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Bogor - Darwin Harianto berjanji kepada warga perumahan tempat dia tinggal akan meneruskan pembahasan soal banjir yang terjadi di wilahnya setelah pulang dari Pangkalpinang, Bangka Belitung. Darwin pamit kepada tetangga-tetangganya akan dinas di Pangkalpinang sehingga tidak bisa berdiskusi lama-lama. Sebab, Ia harus terbang menggunakan Lion Air JT 610 pada Senin, 29 Oktober 2018 pagi.

    Baca: Tiga Jaksa Korban Lion Air JT 610 Hendak Upacara Sumpah Pemuda

    "Kalo di wilayah sini Pak Darwin itu menjabat sebagai ketua RT, mangkanya kemarin malam kumpul masyarakat untuk membahas soal lingkungan supaya tidak banjir," kata Abdul Halim, 42 tahun, salah seorang tetangga saat ditemui di kediaman korban di Perumahaan Villa Mutiara Blok D1 No 26, Kelurahan Mekarwangi, Tanah Sareal, Kota Bogor pada Senin, 29 Oktober 2018 malam.

    Abdul Halim mengatakan malam itu beberapa warga RT 02 Billa Mutiara berkumpul di rumah Darwin untuk membahas soal banjir yang kerap melanda kawasan itu. Apalagi beberapa pekan terakhir, hujan nyaris mengguyur Bogor saban sore. Pria 51 tahun ini pun, kata Abdul, memandu diskusi antar penghuni komplek.

    Membahas penanganan banjir menjadi fokus rapat yang harus dipecahkan oleh dirinya yang menjabat sebagai ketua RT terlebih lagi profesinya sebagai konsultan lingkungan, "Kalo masalah lingkungan selalu menjadi perhatian beliau karena pekerjaannya sebagai konsultan lingkungan," kata dia.

    Tapi diskusi malam itu tidak bisa sampai larut, sebab Darwin harus pergi ke Pangkalpinang untuk urusan pekerjaan. Ia rencananya akan mengambil contoh tanah yang bakal menjadi kebun kepala sawit. "Beliau sempat bilang kalo pembicaraan penanganan banjir di perumahan detailnya akan dibahas lagi setelah dirinya pulang dari Pangkalpinang," kata dia.

    Kepergiannya ke Pangkalpinang dan menjadi salah satu korban dalam kecelakaan pesawat Lion Air bukan hanya menjadi duka bagi istri dan kedua orang anaknya saja tapi duka pun dirasakan oleh semua warga perumahan itu, "kami yang tinggal disini menjadi warga dia, mangkanya kami pun sangat berduka," kata dia.

    Simak juga: Polisi Minta Kelurga Penumpang Lion Air Bawa Ijazah ke RS Polri

    Rupanya, Bapak dua anak ini tidak pernah pulang ke rumahnya lagi. Pesawat Lion Air JT 610 yang ia tunggangi bersama 188 penumpang lainnya jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Hingga saat ini, proses evakuasi dan pencarian badan pesawat masih dilakukan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.