Jumat, 16 November 2018

Dahnil Anzar: Negeri Ini Harus Dipimpin Politikus Kemarin Sore

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dahnil Anzar Simanjuntak. Dok TEMPO

    Dahnil Anzar Simanjuntak. Dok TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, kembali menyinggung soal politikus kemarin sore.

    Baca juga: Julukan-julukan Sandiaga yang Menuai Kontroversi

    Dalam acara Milad Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Ahad malam, 28 Oktober 2018 di Jakarta, Dahnil mengatakan belakangan kubunya mendapat senggolan dengan julukan itu.

    "Ini semuanya politikus kemarin sore ya?" kata Dahnil di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan. Kala itu, Dahnil sedang menyapa para kader PKS Muda. Dahnil saat itu didampingi oleh politikus PKS, Mardani Ali Sera dan Sohibul Iman.

    Ujaran politikus kemarin sore ini sebelumnya dilontarkan cucu Mohammad Hatta, Gustika Jusuf Hatta, untuk menyindir Sandiaga Uno. Belakangan, seteru Gustika dengan kubu Prabowo mencuat. Gustika merasa keberatan atas ujaran Dahnil yang menyebut Sandiaga adalah cerminan Bung Hatta modern.

    Atas seteru yang berlanjut itu, Dahnil menanggapi bahwa politikus kemarin sore justru dibutuhkan oleh negara. Ia juga mengklaim, politikus-politikus muda mumpuni, tak kalah dengan politikus kawakan.

    "Negeri ini harus dipimpin oleh politikus kemarin sore," katanya. Dahnil melanjutkan, negara tidak sebaiknya dipimpin oleh politikus Isya lantaran terlalu tua. "Ketuaan," ucapnya.

    Baca juga: Sandiaga Idolakan Bung Hatta karena Hemat

    Dahnil Anzar juga menyebut, ada jenis politikus lain selain politikus kemarin sore dan politikus Magrib. Politikus Sohibul Iman, misalnya, ia sebut sebagai adalah contoh politikus Magrib.

    Namun, Dahnil mengimbau para kader PKS Muda tak bawa perasaan. "Karena kita bukan politikus alay yang baperan. Hidup anak kemarin sore," katanya.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.