Politikus Golkar: Aksi Penghadangan Nusron Wahid Itu Persekusi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Komisi Luar Negeri DPR, Dave Laksono ditemui di kantor Fraksi Partai Golkar di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, pada 24 November 2017. Tempo/Dias Prasongko

    Anggota Komisi Luar Negeri DPR, Dave Laksono ditemui di kantor Fraksi Partai Golkar di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, pada 24 November 2017. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Dave Laksono menyayangkan aksi penghadangan anggota partainya, Nusron Wahid, oleh sekelompok massa saat berziarah ke makam Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Menurut dia, hal itu termasuk tindakan persekusi.

    "Yang pasti segala macam bentuk persekusi itu melanggar hak asasi manusia," ujar Dave di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu, 27 Oktober 2018.

    Baca: Soal Penghadangan di Luar Batang, Nusron Wahid: Bukan Dendam

    Penghadangan oleh massa terhadap Nusron Wahid terjadi saat ia berziarah ke makam Luar Batang pada Jumat, 26 Oktober 2018. Menurut Nusron, saat tiba di Luar Batang pukul 10.30, tiba-tiba ada yang berteriak 2019 ganti presiden serta teriakan Banser menyusup.

    Saat Nusron keluar makam, sekelompok orang sudah berada di depan masjid sambil membentangkan bendera hitam bertulisan lafadz tauhid, seperti yang kerap dipakai HTI. "Saya cuekin dan sapa dengan senyum. Karena mereka makin brutal, ada beberapa pengurus masjid dan sejumlah Habib membantu saya. Mereka mengusir dan membubarkan kerumunan itu. Terus saya pulang. Itu saja," kata Nusron.

    Baca: Cerita Nusron Wahid Dihadang Massa Saat Ziarah di Luar Batang

    Dave menuturkan tindakan sekelompok massa itu tak layak dilakukan terhadap Nusron. Menurut dia, hal tersebut merupakan tindakan menghakimi orang secara beramai-ramai. "Untung Pak Nusron tidak sampai terluka. Kalau sampai terluka itu orang bisa dikenakan pidana," ujarnya.

    Meski demikian, kata Dave, Nusron tak mau memperpanjang persoalan dengan melaporkan ke aparat berwajib. Namun dia menilai kepolisian harus bertindak dan memastikan agar kejadian persekusi ini tidak berulang kembali. "Persekusi hampir sama dengan bulying online, menyerang orang hanya karena beda pendapat, beda pandangan. Nah inilah yang di era demokrasi hari ini," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.