Cerita Aktivis HMI Ketika Merancang Demo ke Kantor PBNU

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh Barisan Serbaguna Nahdlatul Ulama atau Banser NU di Garut adalah spontanitas. TAUFIQ SIDDIQ

    Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh Barisan Serbaguna Nahdlatul Ulama atau Banser NU di Garut adalah spontanitas. TAUFIQ SIDDIQ

    TEMPO.CO, Jakarta - Imran Katmas, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI, mengungkapkan alasan dirinya merancang unjuk rasa ke kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) di Jalan Kramat, Jakarta. Menurut  Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan HMI Cabang Jakarta Pusat - Jakarta Utara ini, tujuan demonya adalah solidaritas terhadap Aksi Bela Tauhid di Monas sehubungan dengan kasus pembakaran bendera di Garut, Jawa Barat.

    Baca: GP Ansor Siapkan Bantuan Hukum Untuk Anggota Banser NU

    Aksi Bela Tauhid pada Jumat, 26 Oktober 2018, merupakan buntut dari peristiwa pembakaran bendera mirip atribut Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI di Garut pada Senin, 22 Oktober 2018. Pembakaran dilakukan oleh anggota Banser NU, lantaran bendera bertuliskan tauhid mirip HTI, organisasi yang dilarang berdasarkan keputusan pengadilan. Munculnya bendara itu dianggap mencederai acara Peringatan Hari Santri di Garut.

    Massa membentangkan spanduk saat mengikuti aksi bela tauhid di depan kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 26 Oktober 2018. Massa yang menamakan diri BNPT (Barisan Nusantara Pembela Tauhid) tersebut menggelar aksi protes terkait kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Imran Katmas mengaku, rencana unjuk rasa yang digalangnya tidak melewati prosedur organisasi seperti rapat harian. Imran juga tidak melibatkan Ketua HMI Jakarta Pusat - Jakarta Utara, Adim Razak serta Pengurus Besar HMI.  Menurut Imran, jika melewati prosedur dan menunggu instruksi induk organisasi akan sia-sia belaka.

    "Itu sama halnya dengan menunggu yang tidak pernah terjadi," kata Imran saat dikonfirmasi Tempo, Jumat, 26 Oktober 2018. Imran menegaskan, motivasinya menggalang aksi didorong oleh tidak adanya sikap dari PB HMI terhadap insiden pembakaran bendera di Garut. Sedangkan tuntutannya, Banser NU dibubarkan.

    Akibat tidak adanya sikap HMI dalam kasus di atas, kata Imran, masyarakat tidak melihat bahwa HMI sebagai organisasi perjuangan. "Itu yang mendorong saya untuk memperjelas kiblat HMI," kata Imran.

    Baca: GP Ansor Minta Maaf atas Kegaduhan Pembakaran Bendera

    Mengaku Diintervensi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.