Alissa Wahid Menilai Bendera yang Dibakar di Garut Bendera HTI

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alissa Wahid berorasi pada acara Malam Solidaritas Jogja Ilang Roso Tribute to Our Sisters di depan Gedung Agung Yogyakarta, Ahad malam, 10 Mei 2015. TEMPO/Shinta Maharani

    Alissa Wahid berorasi pada acara Malam Solidaritas Jogja Ilang Roso Tribute to Our Sisters di depan Gedung Agung Yogyakarta, Ahad malam, 10 Mei 2015. TEMPO/Shinta Maharani

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Putri mantan presiden Abdurahman Wahid, Alissa Wahid, menyatakan kasus pembakaran bendera berlafal tauhid sudah diselesaikan polisi. Ia juga yakin bendera yang dibakar anggota Barisan Serbaguna (Banser) di Garut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI.

    Koordinator Jaringan  Gusdurian bernama asli Alissa Qotrunnada Munawaroh itu menuturkan bendera yang disita dan dibakar pada upacara Hari Santri Nasiona 2018 di Garut, Jawa Barat, Minggu, 21 Oktober 2018 itu bukan bendera tauhid seperti yang diklaim sejumlah pihak.

    Baca: Polri Tak Proses Hukum Banser NU Pembakar Bendera, Alasannya...

    “Itu jelas bendera HTI, tidak ada bendera tauhid,’’ kata Alissa Wahid di sela  mengikuti the 2nd Global Unity Forum yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Ansor di Hotel Marriot, Yogyakarta, Jumat, 26 Oktober 2018.

    Saat ditanya soal bantahan bekas juru bicara HTI  yang mengaku tidak punya bendera, Alissa dengan tegas menyatakan di dunia digital saat ini mudah menemukan bendera itu  milik HTI. Ia minta supaya cek ke kantor-kantor atau ke mantan anggota HTI untuk menemukan bendera seperti itu.

    Alissa berharap pembakaran bendera oleh Banser  tidak diseret ke persoalan politik menjelang pemilihan umum 2019. “Kita mengembalikan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah,” kata dia.

    Simak: Pengibar Bendera di Garut Membeli Atribut dari Facebook

    Sekretaris Jenderal Ansor GP Ansor Abdul Rochman mengatakan tulisan tauhid itu jamak digunakan. Termasuk untuk bendera ISIS dan Alqaida.  Hanya saja, jenis kaligrafinya berbeda.  “Kalau ISIS itu pakai khat (kaligrafi) kufi,  kalau HTI pakai khat tsulutsi,” kata dia.

    Menurutnya ada unsur kesengajaan soal bendera HTI yang dibawa ke acara Hari Santri Nasional. Sebab, sebelumnya sudah diperintahkan tidak ada bendera kecuali merah putih dalam upacara peringatan Hari Santri.  “Itu ada unsur kesengajaan. Lihat saja di rekaman video dibela-belain sampai naik di atas mobil untuk mengibarkan bendera itu. Kalimat tauhid itu (seharusnya) di hati,” ujarnya.


    MUH. SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?