JK Mengakui Data Produksi Beras Pemerintah Tidak Akurat

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi beras Bulog/Badan Urusan Logistik. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi beras Bulog/Badan Urusan Logistik. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla alias JK menyatakan data produksi beras milik pemerintah tak pernah akurat sejak 20 tahun lalu. Data produksi, kata dia, tidak sesuai dengan kondisi lapangan. "Masalah data ini sejak tahun 1997 tidak kita review dengan betul sehingga kita menambah-nambah angka produksi terus menerus," kata JK di kantornya, Jakarta, Senin, 22 Oktober 2018.

    Padahal kenyataannya, sawah di Indonesia berkurang 1,5 persen per tahun yang dipengaruhi, salah satunya, oleh pertambahan penduduk. JK mengatakan data produksi tak akurat bahkan terjadi hingga hari ini. Dia mencontohkan Kementerian Pertanian yang memprediksi luas lahan panen pada Oktober hingga Desember 2018 sebesar 2,85 juta hektare.

    Baca: JK: Data Produksi Beras Nasional Salah Sejak 20 Tahun Lalu

    Dari lahan tersebut kementerian memprediksi akan ada produksi sebesar 15,09 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 8,7 juta ton beras. JK mengaku turut bertanggung jawab atas data yang tak akurat ini. "Saya termasuk salah juga sebagai Wakil Presiden yang lalu tidak segera mengevaluasi," katanya.

    Pasalnya, setiap tahun angkanya semakin jauh dari kenyataan. Para ahli pertanian juga sudah vokal menyatakan data pemerintah soal produksi beras terlalu besar. Menurut JK, pemerintah berupaya memperbaikinya sejak tiga tahun lalu. Pemerintah menyempurnakan penghitungan dengan menggunakan metode kerangka sampel area (KSA).  Metode ini hasil kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

    Kementerian ATR berperan melakukan perhitungan luas lahan baku sawah nasional, dibantu oleh BIG dan LAPAN. BPS dan BPPT kemudian menghitung luas panen. Setelahnya BPS menghitung produktivitas per hektar dan konversi gabah kering menjadi beras. Menurut JK, penghitungan ini dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit. "Setelahnya dicek lagi ke lapangan," kata dia.

    Simak: Sisa Setahun, Ini Target yang Dikejar Pemerintahan Jokowi - JK

    Melalui metode tersebut, JK mengklaim pemerintah kini memiliki data yang lebih akurat.  Sampai dengan bulan September 2018, data luas panen adalah sebesar 9,5 juta hektare. Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 diperkirakan mencapai 10,9 juta hektare.

    Produksi GKG tercatat mencapai 49,65 juta ton sampai September 2018. Total produksi GKG 2018 diprediksi sebesar 56,54 juta ton atau setara dengan 32,42 juta ton beras hingga akhir tahun. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.