Telkom Landmark Tower Daur Ulang Kondensat AC untuk Sumber Air Bersih

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Telkom Landmark Tower (TLT), sebuah kompleks perkantoran modern dari group PT Telkom Indonesia telah berhasil melakukan konservasi air.

    Telkom Landmark Tower (TLT), sebuah kompleks perkantoran modern dari group PT Telkom Indonesia telah berhasil melakukan konservasi air.

    INFO NASIONAL - Telkom Landmark Tower (TLT), sebuah kompleks perkantoran modern dari grup PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, telah berhasil melakukan konservasi air. Bangunan ini telah memanfaatkan air kondensasi pendingin udara (AC) menjadi alternatif sumber air bersih.

    Daur ulang air kondensat AC ini merupakan wujud komitmen TLT sebagai peraih penghargaan Platinum dari Green Building Council Indonesia untuk desain gedung, yang memperhatikan aspek konservasi air. Aspek lainnya adalah tepat guna lahan (Approriate Site Development/ASD), efisiensi dan konservasi energi (Energy Efficiency & Conservation/EEC), sumber dan siklus material (Material Resource and Cycle/MRC), serta kualitas udara dan kenyamanan ruang (Indoor Air Health and Comfort/IHC).

    Ada empat sumber air bersih yang digunakan pada kompleks Telkom Landmark Tower yang terdiri dari dua tower tersebut. Di antaranya dari air hujan, air kondensat AC, air perpipaan PALYJA, dan sumur dalam (deep well). Chief Engineering Telkom Landmark Tower, Saut Maruarar Gultom memaparkan, air hujan dan air kondensat AC disalurkan menuju tangki penampungan Clean Water Tank (CWT) yang terletak di Basement 3, berkapasitas 500 meter kubik.

    Lebih lanjut Saut menjelaskan, setelah dilakukan proses penyaringan atau filterisasi menggunakan sand filter dan carbon filter, kemudian dialirkan ke Intermediate Water Tank (IWT)  yang berkapasitas 500 meter kubik yang berada di Basement 1.  Pada IWT ini, terdapat dua sumber air bersih lainnya, yaitu dari jaringan perpipaan PALYJA dan sumur dalam.

    Apabila sumber air dari IWT telah mencukupi kebutuhan, dapat langsung disalurkan melalui pipa-pipa ke kamar mandi, toilet dan pantry di kedua dua tower bangunan tersebut, tanpa pengolahan lebih lanjut.

    Sebagai gambaran, Saut menjelaskan apabila di rumah saja hanya membutuhkan satu AC berkapasitas 1 Paard Kracht (PK), di gedung ini kebutuhan AC minimal 3 PK. Total kebutuhan AC pada tower satu setinggi 23 lantai dan tower kedua setinggi 52 lantai sebanyak 900 AC, maka terbayang potensi dari sumber air kondensat AC tersebut.

    Greywater atau air buangan dari sumber kondensat AC ini memiliki kelebihan dari segi kualitas. Air buangan ini tidak mengandung kotoran manusia dan buangan dapur. Air bekas ini setelah melalui proses pengolahan, memiliki potensi pemanfaatan kembali untuk keperluan pembilasan toilet, penyiraman tanaman, pencucian mobil dan sistem pemadaman kebakaran.

    “Dalam setahun, kami melakukan uji sampel ke Sucofindo sebanyak dua kali terhadap air hasil kondensat AC dan air hujan. Hasilnya sudah memenuhi standar mutu air bersih,” ujar Saut.

    Konsumsi air dari jaringan perpipaan PALYJA pada 2018 mencapai 10.000 meter kubik sampai 18.000 meter kubik perbulannya, atau sekitar 300 sampai 500 meter kubik per harinya. Sedangkan tingkat hunian ke dua tower tersebut mencapai 80 persen.
    Sebagian besar kebutuhan air bersih telah terpenuhi dari PALYJA. Namun pihaknya masih memanfaatkan sumber air tanah apabila pasokan air bersih terganggu atau pada saat emergensi saja. Menurut Saut, biaya penggunaan deepwell lebih mahal dibandingkan dengan air perpipaan. Biaya penggunaan air tanah dapat mencapai 22 ribu per meter kubik, sedangkan air perpipaan hanya 12 ribu per meter kubiknya. “Dari sisi kualitas, air dari jaringan perpipaan juga lebih terjamin kebersihannya,” katanya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.