Beda Kasus Ratna Sarumpaet dan Novel Baswedan Menurut Tim Jokowi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PPP, Asrul Sani. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PPP, Asrul Sani. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin, Asrul Sani, mengatakan kasus hoax Ratna Sarumpaet berbeda dengan kasus penyerangan Novel Baswedan. Menurut Asrul, pengungkapan kebohongan Ratna oleh tim kepolisian dikarenakan hard evidence yang gampang didapat.

    Baca: Hoax Ratna Sarumpaet, Alasan Polisi Tak Panggil Prabowo Bersaksi

    "Melihat posisi telepon seluler yang bersangkutan, itu ada di Bandung apa nggak, begitu. Itu dengan gampang bisa dilakukan, jadi nggak bisa dibandingkan apple to apple (dengan kasus penyerangan Novel)," kata Asrul di posko Cemara 19, Jakarta, 20 Oktober 2018.

    Untuk kasus Novel Baswedan, Arsul mengatakan permasalahannya adalah tidak adanya hard evidence. Ia menjelaskan hard evidence tersebut dapat berupa saksi yang melihat dan mampu mengidentifikasi pelaku maupun bukti petunjuk seperti rekaman CCTV.

    Arsul juga mengatakan masyarakat hendaknya tidak menyalahkan Presiden Jokowi karena kasus Novel Baswedan tak kunjung mendapat titik terang. Anggota komisi III di Dewan Perwakilan Rakyat itu berujar pihak yang seharusnya dipertanyai terus-menerus tentang perkembangan kasus tersebut adalah Polri.

    Baca: Disenggol Sandiaga, Susi Pudjiastuti Sindir Kasus Ratna Sarumpaet

    "Tidak tertutup kemungkinan, kami fraksi pendukung pemerintahan yang ada di DPR akan menanyakan kepada Polri. Kalau memang tidak bisa diproses, ya harus ada keberanian bahwa pada satu titik tertentu ini unresolved case," tuturnya.

    Pada Jum'at lalu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai belum terungkapnya kasus Novel Baswedan termasuk kegagalan Presiden Jokowi memenuhi poin pertama janji hak asasi manusia dalam Nawacita.

    "Realitasnya justru pejuang antikorupsi dikriminalisasi," kata koordinator KontraS, Yati Andriani, di kantornya, Jakarta, Jumat, 19 Oktober 2018.

    Penyerangan terhadap Novel terjadi pada 11 April 2017. Novel diserang dua orang saat berjalan pulang selepas menunaikan salat Subuh berjamaah di Masjid Ihsan yang tak jauh dari rumahnya, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017. Dua orang berboncengan sepeda motor menyiram air keras ke arah Novel.

    Baca: KPK Segera Tagih Perkembangan Kasus Novel Baswedan ke Polri

    Sejak penyerangan terjadi hingga kini, Polri belum mampu menangkap pelakunya. Polisi berdalih kesulitan menangkap pelaku lantaran penyidik belum dapat mengidentifikasi dua orang yang menyiram air keras itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.