Selasa, 13 November 2018

Saat Jokowi Cerita Hoax Saracen dan Obor Rakyat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berswafoto dengan Presiden Joko Widodo (kedua kiri) saat kegiatan pembukaan Temu Karya Nasional Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa/Kelurahan (PINDesKel) 2018 di Garuda Wisnu Kencana, Badung, Bali, Jumat, 19 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    Warga berswafoto dengan Presiden Joko Widodo (kedua kiri) saat kegiatan pembukaan Temu Karya Nasional Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa/Kelurahan (PINDesKel) 2018 di Garuda Wisnu Kencana, Badung, Bali, Jumat, 19 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi heran dengan masih banyaknya beredar kabar bohong atau hoax meski tindakan hukum tegas sudah dilakukan terhadap sejumlah kasus.

    Baca juga: Kasus Obor Rakyat, Polisi Sudah Periksa Jokowi

    Hal tersebut diungkap Presiden saat bersilaturahmi dengan santri Pondok Pesantren Al Itqon Semarang, Sabtu, 20 Oktober 2018.

    Presiden mengungkapkan sejumlah kasus hoaks yang sudah ditindak tegas secara hukum, seperti Obor Rakyat dan Saracen.

    "Ini masih ada ribuan, apa tidak ada hal yang lebih baik," katanya.

    Obor Rakyat adalah tabloid yang dibuat dengan konten berisi tuduhan bahwa Jokowi merupakan keturunan Tionghoa dan kaki tangan asing. Tim Jokowi kemudian melaporkan kasus ini.

    Dua petinggi Obor Rakyat yaitu Setyardi dan Darmawan Sepriyosa dihukum 8 bulan penjara karena divonis bersalah telah melakukan fitnah pada Jokowi.

    Adapun Saracen adalah sindikat yang digulung polisi karena menyebarkan ujaran kebencian berkonten SARA lewat media sosial.

    Menurut Presiden Jokowi, di setiap pilkada atau pemilihan presiden, akan muncul hoax dan fitnah, terutama di media sosial. "Itu bukan tata krama Indonesia, bukan etika Indonesia, bukan etika Islami kita," katanya.

    Serangan hoax dan fitnah terhadap dirinya tidak hanya terjadi kali ini saja, namun hal itu juga dialami pada Pemilu 2014.

    Baca juga: Dihukum 8 Bulan, Pemred Obor Rakyat Ajukan Banding

    Meski demikian, Kepala Negara menanggapinya sebagai hal yang biasa saja. "Saya biasa saja, tapi apa itu pendidikan yang baik," kata Presiden.

    Oleh karena itu, Jokowi menitipkan kepada para santri untuk menjaga kerukunan dan persatuan.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Al Wathoniyah Pondok Pesantren Al Itqon, K.H.Ubaidillah Shodaqoh menyatakan kebanggaannya kepada Presiden Jokowi atas sikapnya dalam menghadapi fitnah dan kabar bohong tersebut.

    "Kami bangga karena beliau tetap sabar dan lembut kasih sayangnya kepada rakyat," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?