Beda Tim Purnawirawan TNI, Bravo 5 dan Cakra 19 di Kubu Jokowi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Joko Widodo alias Jokowi dan Ma'aruf Amin tiba di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Jumat malam, 21 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Joko Widodo alias Jokowi dan Ma'aruf Amin tiba di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Jumat malam, 21 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Tim yang sempat dibekukan setelah Jokowi terpilih menjadi presiden ini, diaktifkan kembali dengan misi yang sama, yakni untuk memenangkan Jokowi dan Ma’ruf Amin di pemilihan presiden 2019. "Pada Oktober 2017 lalu, kami duduk bersama dan memutuskan mengaktifkan kembali tim ini,” ujar Ketua Tim Bravo 5 Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi saat ditemui Tempo di markas tim-nya, Selasa dua pekan lalu.

    Baca juga: Daftar Purnawirawan Jenderal TNI di Kubu Prabowo - Sandiaga

    Ada 21 purnawirawan jenderal yang masuk dalam pengurus inti tim ini. Mereka adalah orang-orang yang dianggap tahu tabiat dan mengerti cara berpikir penantang Jokowi, Prabowo Subianto. Di antaranya yakni; Letjen TNI (Purn) Sumardi, Letjen TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, dan lainnya.

    Fachrul tak menampik bahwa banyak pertanyaan soal loyalitas terhadap sesama purnawirawan TNI kepada dirinya dan kawan-kawan, ketika memilih mendukung Jokowi di pemilihan presiden 2019. Namun, menurut Fachrul, politik dan militer adalah dua urusan yang berbeda. "Loyalitas terhadap sesama purnawirawan harus dikalahkan untuk kepentingan bangsa. Jadi di Pilpres ini, kami pilih yang terbaik untuk bangsa ini," ujar dia.

    Membahas strategi pemenangan di pilpres 2019, menurut Fachrul, tugas tim Bravo-5 untuk memenangkan Jokowi di pemilu 2019, akan lebih mudah jika dibandingkan dengan pemilu 2014. “Karena dulu kita enggak punya jualan, hanya modal track record saja menang. Sekarang kita punya prestasi. Menurut saya, jualan kita sih hebat banget,” ujar dia.

    Fachrul mengatakan, tim ini akan memprioritaskan pergerakan di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat. Di provinsi tersebut, secara angka, Jokowi paling banyak kalah dari Prabowo pada 2014 silam. Tidak banyak program yang disiapkan untuk menggaet pemilih, intinya para relawan tim Bravo-5 diminta menyebarkan prestasi pemerintahan Jokowi lewat berbagai kegiatan masyarakat dan mengeleminasi berbagai isu negatif yang menyerang pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

    Baca: Tim Sukses Jokowi Tanggapi Pidato Prabowo Soal Ekonomi Kebodohan

    Tak hanya menggarap teritorial, tim juga akan fokus menggarap pemilih berdasarkan segmentasi. Untuk itu, selain diisi oleh para jenderal purnawirawan, Bravo-5 juga diisi sejumlah tokoh masyarakat, profesional dan tokoh agama. Berbagai divisi dibentuk. Di antaranya, ada divisi ulama, divisi milineal, divisi buddhis.

    Rencana pembentukan divisi non-muslim pun tengah digodok untuk meraup dukungan kaum minoritas. Sejumlah organisasi pengusaha pun juga akan ditarik menjadi bagian relawan Bravo-5. Divisi-divisi ini dianggap penting dibentuk menjembatani komunikasi dengan berbagai pihak. Banyak ulama juga dijadikan ketua tim Bravo-5 di berbagai daerah, seperti Jawa Barat dan Banten. Dengan cara ini, Tim Bravo-5 menargetkan Jokowi-Ma’ruf mendapat kemenangan dengan perolehan suara 60-70 persen.

    Tim Cakra 19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.