Gempa 5 SR Guncang Sibolga, Tidak Berpotensi Tsunami

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gempa. geo.tv

    Ilustrasi gempa. geo.tv

    TEMPO.CO, Jakarta - Gempa berkekuatan 5 skala Richter mengguncang daerah di sekitar Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Jumat dinihari, 19 Oktober 2018, pukul 05.12 WIB.

    "Tidak berpotensi Tsunami," tulis pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG melalui akun twitter @infoBMKG.

    Baca: Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Gempa 5,3 M Guncang Aceh Barat

    Pusat gempa terletak sejauh 23 kilometer timur laut Sibolga dengan kedalaman 146 kilometer di bawah tanah. BMKG juga menyebut titik episentrum atau pusat gempa berlokasi 1,81 lintang utara dan 98,98 bujur timur.

    Sebelumnya empat hari lalu, pada Senin malam, 15 Oktober 2018, gempa juga terjadi di provinsi tetangga, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa tektonik berkekuatan 5,4 SR itu terjadi di wilayah Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat, sekitar 524 kilometer dari Sibolga.

    Baca: Viral Kajian Potensi Gempa dan Tsunami Mentawai, Ini Kata BMKG

    BMKG Stasiun Geofisika Mata I'e di Aceh Besar saat itu menyebutkan titik episentrum atau pusat gempa berlokasi 3,91 lintang utara, dan 95,76 bujur timur. Gempa ini terjadi di laut dengan jarak sekitar 74 kilometer barat daya Kabupaten Aceh Singkil dengan memiliki kedalaman 25 kilometer.

    Pada Jumat dini hari, gempa juga terjadi di sekitar Buru Selatan, Maluku. Gempa berkekuatan 3,4 SR itu mengguncang sekitar pukul 03.10 WIB.

    Berdasarkan data BMKG, pusat gempa tersebut berada di 27 kilometer timur laut Ambalau-Buru Selatan dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut dirasakan di wilayah Ambon dan Seram. Tidak berpotensi tsunami.

    Baca: Gempa Aceh Barat Termasuk Tektonik Kerak Dangkal, Ini Penyebabnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.