Dua Proyektil Baru di Gedung DPR, MKD: Kemungkinan Asalnya Sama

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barang bukti kasus peluru nyasar ke gedung Nusantara I DPR di Polda Metro Jaya, Selasa, 16 Oktober 2018. Tempo/Adam Prireza

    Barang bukti kasus peluru nyasar ke gedung Nusantara I DPR di Polda Metro Jaya, Selasa, 16 Oktober 2018. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua proyektil peluru kembali ditemukan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR. Ketua Majelis Dewan Kehormatan, Sufmi Dasco Ahmad, mengatakan ada kemungkinan penemuan ini berasal dari sumber yang sama pada kasus penemuan proyektil peluru pada Senin lalu.

    Baca: Dua Proyektil Peluru Kembali Ditemukan di Gedung DPR

    "Kami baru cek lobangnya, kira-kira sama dengan yang kemarin. Tapi kami tidak tahu apa baru saja terjadi atau sama dengan yang kemarin," ujar Dasco di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu 17 Oktober 2018.

    Kedua bekas peluru ini ditemukan di lantai 20 di ruang 2003 milik anggota Fraksi Partai Amanat Nasional, Toto Daryanto; dan di lantai 10 di ruang 1008 milik anggota Fraksi Demokrat Vivi Sumantri Jayabaya. Peluru di ruangan Vivi berhasil ditemukan, sedangkan di ruang milik Toto, menurut Dasco peluru tidak dapat menembus kaca karena ketinggian lantai.

    Baca: Peluru Nyasar di DPR, Polri Sebut Tak Ada Unsur Kesengajaan

    Sebelumnya dua proyektil peluru juga ditemukan pada Senin 15 Oktober 2018. Peluru ini ditemukan di ruangan milik Wenny Waraow dan Bambang Heri Purnama. Masing-masing di lantai 13 dan 16.

    Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta mengatakan dua peluru itu berasal dari empat tembakan dari Lapangan Tembak Senayan. "Dua di antara empat peluru yang ditembakkan nyasar ke lantai 13 dan 16 gedung DPR," ujar Nico Selasa 16 Oktober 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.