Ada Donatur Tiket Gratis untuk Pengungsi Gempa Palu di Balikpapan

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengungsi di Baroa sedang beribadah di Musala darurat Al-Fatah di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Minggu siang, 14 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy R

    Para pengungsi di Baroa sedang beribadah di Musala darurat Al-Fatah di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Minggu siang, 14 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy R

    TEMPO.CO, Jakarta - Rudi Wibowo, 40 tahun, korban gempa Palu, hampir putus asa lantaran tak punya uang untuk keluar dari Sulawesi Tengah. Perantau asal Jember, Jawa Timur, yang baru satu tahun tinggal di Palu itu traumatis akibat tsunami dan gempa.

    Ia sangat ingin keluar dari Palu sesegera mungkin. “Sudah dua pekan di Palu sejak gempa, saya ketakutan," kata Rudi saat ditemui di pengungsian Landasan Udara Dhomber, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 16 Oktober 2018.

    Baca: Pengungsi Gempa Palu di Balikpapan Kelaparan, Haus, Traumatis

    Sehari-hari, Rudi pengurus peternakan ayam milik Dinas Peternakan Pemerintah Kota Palu. Ia tinggal di mess dinas di Layana, dekat Pesisir Pantai Talise. Lelaki itu nyaris menjadi korban tsunami saat gelombang besar menghempas pesisir Kota Palu pada 28 September lalu.

    Tubuhnya terpelanting dan tertimpa kayu-kayu bangunan kandang ayam akibat gempa. Ia lalu melarikan diri ke daerah Lapangan Katanu, Kota Palu, tanpa membawa bekal.

    Baca: Ada Swalayan Gratis untuk Pengungsi Gempa Palu di Balikpapan

    Saat mengungsi, Rudi teringat keluarganya di Jember: dua anak dan istrinya. Ia lalu berusaha mencari informasi ke agen travel sehari setelah gempa untuk mencari tumpangan ke Pulau Jawa. Namun malang, akses jalan tertutup dan ia kesulitan keluar dari Palu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?