Kabar Penangkapan Habib Umar bin Hafidz, Mabes Polri: Itu Hoax

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Polisi Indonesia. Getty Images

    Ilustrasi Polisi Indonesia. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabar penangkapan Habib Umar bin Hafidz tersebar cepat di media sosial. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo membantah kabar yang menyebut Habib Umar bin Hafidz ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Antiteror seusai menggelar dakwah di Kalimantan Timur tersebut.

    "Itu hoax. Saya sudah konfirmasi ke Kapolda Kalimantan Timur," ucap Dedi di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan pada Senin, 15 Oktober 2018.

    Sebelumnya dalam video beredar, terekam beberapa polisi berseragam hitam-hitam dan bersenjata laras panjang mengawal keluarnya Habib Umar bin Hafidz dari salah satu masjid di Kalimantan Timur.

    Puluhan jamaah yang menunggu di luar terdengar melantunkan salawat selama proses Habib Umar bin Hafidz keluar menuju mobil.

    Dedi mengatakan, karena jamaah yang hadir mencapai ribuan orang maka panitia acara meminta polisi untuk melakukan pengamanan terhadap Habib Umar.Pengamanan itu sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) guna menghindari hal-hal yang merugikan terjadi.

    Meski begitu, Dedi akui memang pengamanannya agak ketat. "Maka dari itu, pengamanannya dilihat dari perspektif lain oleh seseorang. Kemudian dibuat komen yang intinya negatif. Viral seolah-olah setelah dakwah itu dikawal karena ditangkap," ucap dia.

    Lebih lanjut Dedi menjelaskan bahwa pengamanan ekstra itu sudah terlebih dulu ditentukan oleh analisa intelijen yang bertugas di Kalimantan Timur.

    "Yang paling memahami situasi keamanan di sana adalah aparat di sana. Makanya ada analisa intelijen. Mungkin berdasarkan analisa intelijen dan kerawanan yang mungkin bisa terjadi maka digunakan lapis pengamanan seperti itu," kata Dedi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.