Kamis, 13 Desember 2018

Gus Miftah: Yang Meneror Acara Sedekah Laut Gagal Paham

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemilik Pondok Pesantren Ora Aji, Gus Miftah, saat ditemui di kantor PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Senin, 17 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Pemilik Pondok Pesantren Ora Aji, Gus Miftah, saat ditemui di kantor PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Senin, 17 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat nelayan di Pantai Baru, Pandansimo Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, resah. Sebab, acara sedekah laut diteror dan persiapannya dirusak oleh sekelompok orang, Jumat malam, 12 Oktober 2018.

    Gus Miftah, kiai yang menjadi panutan warga di pantai itu, angkat bicara. Menurut dia, mereka yang merusak tersebut belum paham betul soal agama dan tradisi yang dilakukan oleh warga.

    Baca juga: Cerita Gus Miftah, Pengunjung Kelab Malam Menangis Dengar Ceramah

    “Kebetulan daerah itu wilayah binaan saya, besok saya adakan pengajian di sana,” kata pemilik nama asli Miftah Maulana Habiburrohman, Sabtu malam, 13 Oktober 2018.

    Pengasuh Pesantren Ora Aji, Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, ini menilai, mereka yang membubarkan acara sedekah laut itu gagal paham. Padahal, selama tujuan acara tersebut adalah nguri-uri (melestarikan) tradisi dan budaya itu tidak ada masalah. Acara itu tidak mengandung syirik. Sebab, mereka sudah diberi dakwah yang benar. Tidak ada peribadatan di acara itu. Jika berdoa juga berdoa kepada Tuhan.

    “Tapi jika sifatnya peribadatan, itu jelas salah," kata dia saat peringatan milad ke-6 Pesantren Ora Aji.

    Sambil tersenyum ia menyinggung mereka yang melakukan tindak anarkis membubarkan acara tradisi itu ia tidak setuju. Sebab, ajaran Islam itu rahmatan lil alamin. Kasih sayang diutamakan, bukan justru menyerang dan berbuat anarkis.

    “Islam itu penyayang, kalau bagi saya, mereka butuh kita untuk memahamkan,” kata Gus Miftah.

    Ia menyebutkan bahwa dalam berdakwah tidak bisa dengan kekerasan. Jika tradisi adat labuhan itu merupakan ritual ibadah, perlu diluruskan dengan baik, bukan dengan cara yang anarkis.

    Baca juga: Dakwah Gus Miftah di Klub Malam Jadi Polemik, Ini Saran MUI

    “Yang niatnya untuk ritual, kita arahkan bahwa ini adalah nguri-uri budaya, kan tidak masalah. Pendekatan ke mereka tidak boleh dengan cara anarkis. Saya yakin mereka bisa diajak komunikasi, bisa menerima. Itu bukan peribadatan, tapi nguri-uri budaya saja," kata pria berambut panjang ini.

    Sementara, polisi telah menangkap sembilan orang yang diduga melakukan tindakan anarkis di lokasi sedekah laut. Polisi masih menyelidiki kasus ini. Namun belum mau menyebutkan kelompok mana yang melakukan tindak anarkis itu.

    “Ada sembilan orang yang diamankan, polisi masih melakukan penyelidikan,” kata Kepala Kepolisian Resor Bantul Ajun Komisaris Besar Sahat Marisi Hasibuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Avengers End Game, Para Jagoan yang Selamat Menuju Laga Akhir

    Sejumlah jagoan yang selamat dari pemusnahan Thanos di Infinity War akan berlaga di pertarungan akhir di Avengers Infinity War.