Selasa, 23 Oktober 2018

Dua Pekan, Pengungsi Gempa Palu Mulai Bosan Tinggal di Barak

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria membersihkan puing-puing rumahnya yang rusak akibat gempa Palu dan likuifaksi di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 11 Oktober 2018. REUTERS/Darren Whiteside

    Seorang pria membersihkan puing-puing rumahnya yang rusak akibat gempa Palu dan likuifaksi di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 11 Oktober 2018. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Penghuni tenda-tenda pengungsian di Lapangan Vatulemo, Palu, Sulawesi Tengah sibuk membersihkan terpal yang basah akibat hujan Jumat malam lalu, 12 Oktober 2018. “Air hujan masuk ke tenda, beberapa barang basah,” ujar Lukman, 49 tahun, Sabtu, 13 Oktober 2018. Lukman mengatakan tenda-tenda pengungsian yang berada tepat di seberang rumah dinas Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo alias Pasha Ungu sudah dua kali diganti. Sebelumnya, mereka menggunakan terpal seadanya. Saat ini, mereka tinggal di tenda yang dibangun Kementerian Sosial.

    Dua pekan lebih tinggal di tanah lapang, Lukman mengaku ia dan tetangganya sudah mulai bosan. Mereka yang rumahnya rusak berat mengharapkan pemerintah mengelarkan proyek huntara alias hunian sementara yang sudah dijanjikan.

    Baca: Heli Harapan Para Korban Gempa Palu di Pegunungan

    Wali Kota Palu Hidayat mengatakan pemerintah daerahnya sedang menyiapkan pembangunan hunian sementara atau huntara untuk korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Pada masa tanggap darurat ini, Pemkot Palu sudah mendata 24 titik alternatif huntara.

    “Sebanyak 25 titik itu nanti akan kami serahkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk dikaji ulang,” kata Hidayat saat ditemui di rumah dinas Wakil Wali Kota Palu, Jumat sore, 12 Oktober 2018.

    Baca: Pencarian Korban Gempa Palu Diperpanjang Sampai Hari Ini

    Huntara akan menampung seluruh korban gempa yang rumahnya roboh dilibas gempa dan tsunami Palu. Jumlah keseluruhan huntara belum diketahui pasti lantaran pemerintah masih mendata hunian korban yang rusak ringan dan rusak berat. Namun, dalam data sementara yang diterima Pemerintah Kota Palu, rumah rusak keseluruhan (ringan dan berat) akibat gempa dan tsunami mencapai 68.451.

    Selain huntara, tenda-tenda yang lebih kokoh telah dibangun oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Relawan asing dari Turkish Red Cross misalnya. Mereka menyediakan 150 tenda untuk pengungsi di perkampungan Balaroa, Sulawesi Tengah, Sabtu sore kemarin, 13 Oktober 2018. Tenda ini muat untuk satu keluarga berisi 5-6 orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.