Selasa, 18 Desember 2018

MER-C Menyayangkan Komando Penanganan Gempa Palu Dipegang Wiranto

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Relawan medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, Triyogi Prabowo, dan anggota presidium MER-C, Arief Rachman, dalam konferensi pers tentang hasil assessment penanganan bencana gempa dan tsunami Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, di Kantor Pusat MER-C, Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2018. TEMPO/Friski Riana

    Relawan medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, Triyogi Prabowo, dan anggota presidium MER-C, Arief Rachman, dalam konferensi pers tentang hasil assessment penanganan bencana gempa dan tsunami Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, di Kantor Pusat MER-C, Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kegawatdaruratan Kesehatan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, menyayangkan komando penanganan bencana gempa Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, dilakukan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto.

    Baca juga: Wiranto Minta Kantor Pemerintahan di Palu Segera Dibuka

    "Ini akan mengakibatkan yang bergerak pertama adalah TNI. Saya tidak tahu apakah daerah ini mungkin daerah konflik bisa jadi disubstitusikan kepada Menko Polhukam," kata relawan medis MER-C, Triyogi Prabowo, dalam konferensi pers di kantor MER-C, Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2018.

    Yogi mengatakan, komando penanganan bencana gempa semestinya diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebab, BNPB sudah memiliki alur yang jelas dalam melakukan komando penanganan bencana.

    "Alur BNPB tentu akan melakukan assessment, lalu menggerakkan seluruh cluster-cluster yang melibatkan kementerian-kementerian, termasuk TNI Polri. Jadi lebih holistik," ujarnya.

    Baca: Penjarahan Usai Gempa Donggala, Wiranto: Ada yang Liar

    Menurut dokter spesialis bedah RS Cipto Mangunkusumo itu, di awal penanganan bencana, Menko Polhukam tidak melakukan assessment yang menyeluruh. Saat itu, kata Yogi, ada evakuasi pasien besar-besaran oleh militer ke Makassar dari RS Wirabuana Palu dan RS Undata Palu. Ia menyebutkan, sekitar 300 pasien diangkut ke Makassar dan akhirnya menimbulkan masalah baru.

    "Ini akibat assessment yang mungkin belum menyeluruh. Saat itu, diputuskan seluruh RS tidak bisa digunakan dan tidak layak digunakan, makanya diambil keputusan seluruh pasien dibawa ke Makassar," kata dia.

    Padahal, Yogi menuturkan, dalam hasil assessment tim advance MER-C, RS Sis Aljufri menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang masih layak digunakan. "Ketika kami berhasil menemukan RS Sis Aljufri masih layak digunakan, pasien-pasien dibawa ke sini. Ini perbedaan di dalam komando," ujarnya.

    Presiden Joko Widodo sebelumnya menunjuk Menko Polhukam Wiranto mengkoordinasi penanganan korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Selain Wiranto, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi komandan penanganan korban bencana yang bertanggung jawab mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Pemilih Tetap Tahap Kedua untuk Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum atau KPU akhirnya mengumumkan perbaikan Daftar Pemilih Tetap tahap kedua pada 15 Desember 2018 untuk Pilpres 2019.