Senin, 10 Desember 2018

Dua Pekan Bertugas di Palu, Begini Kondisi Para Relawan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas relawan dokter muda, dokter kebun dari PT Mamuang, Pasangkayu, Sulawesi Tengah, Fatimatuzzarah, 27 tahun, di Posko Garuda, Palu, Sulawesi Tengah. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Aktivitas relawan dokter muda, dokter kebun dari PT Mamuang, Pasangkayu, Sulawesi Tengah, Fatimatuzzarah, 27 tahun, di Posko Garuda, Palu, Sulawesi Tengah. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta – Para relawan dari dalam dan luar negeri telah berdatangan ke Palu, Sulawesi Tengah, sejak hari kedua gempa dan tsunami yang terjadi pada 28 September lalu. Hari ini, Jumat, 12 Oktober, para pekerja untuk kemanusiaan tersebut genap dua pekan membantu tim gabungan menangani korban gempa.

    Setelah dua pekan berjibaku di wilayah terdampak bencana, bagaimana kondisi relawan?

    Baca: TNI Bantah Ada Penolakan Relawan Asing untuk Korban Gempa Palu

    Pantauan Tempo di Palu, para relawan telah memiliki pos-pos sendiri untuk mendirikan tenda. Pos ini tersebar di seluruh Kota Palu yang terdampak gempa serta tsunami dan wilayah lain di sekitarnya. Umumnya, para relawan tinggal di dekat titik-titik pengungsian. Misalnya relawan Radio Antar-Republik Indonesia. Mereka mendirikan posko tepat di seberang lokasi pengungsian massal di Lapangan Balai Kota.

    Posko RAPI ini berada di kompleks rumah dinas Wakil Wali Kota Palu. Sedangkan relawan lain, seperti komunitas mahasiswa pecinta alam Indonesia, membuka tenda di Komando Resor Militer 132/Tadulako Palu.

    Tenda-tenda itu dibawa sendiri oleh para relawan. Koordinator Lapangan Pusat Koordinator Daerah Mapala Sulawesi Selatan, Ikbal Arianto, yang ditemui Tempo di Korem Palu, Kamis malam, 11 Oktober, mengatakan tenda yang digunakan saat ini merupakan tenda milik Komunitas Mapala.

    Baca: Pengungsi Gempa Palu Kesulitan Mendapat Bantuan Beras

    Tenda itu berupa terpal dan tidak memiliki penutup di sisi samping. Saat hujan turun, para anggota Mapala harus menutup sisi-sisi tenda yang terbuka dengan terpal lagi. Sedangkan tenda para relawan lain umumnya menggunakan tenda dom berisi 4-6 orang.

    Soal makan, pemerintah dan lembaga-lembaga terkait telah menyediakan nasi bungkus yang didistribusikan dari dapur-dapur umum untuk para relawan. “Kalau kami, makanan terjamin dari Korem, mulai makan pagi hingga makan malam,” kata Ikbal.

    Adapun soal kesehatan, pos-pos medis yang disediakan, baik oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat atau organisasi non-profit turut menampung keluhan para relawan. Pos-pos itu juga membagikan masker-masker gratis untuk para relawan yang membutuhkan dengan koordinasi yang dilakukan ketua regu kelompok relawan tersebut.

    Baca: Penjelasan Wali Kota Palu soal Polemik Distribusi Bantuan Korban

    Dinas Kesehatan juga memberikan layanan vaksin tetanus untuk relawan yang terjun di daerah evakuasi. Vaksin ini diberikan untuk mencegah tubuh terserang penyakit yang dihasilkan oleh bakteri tanah yang bisa menginfeksi luka terbuka.

    Ikbal mengatakan kelompok relawannya yang membantu evakuasi akan tinggal di Palu sampai masa tanggap bencana kelar pada 26 Oktober nanti. Mereka, kata dia, akan menerapkan sistem sift dan kloter untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit.

    Baca: Gempa Palu, Kemendikbud Bangun 333 Sekolah Darurat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.