Polri: Rutan Maesa Penampungan Sementara Warga Binaan di Palu

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A yang hancur akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 2 Oktober 2018. Runtuhnya dinding dan beberapa fasilitas lapas akibat gempa bumi menyebabkan sejumlah warga binaan melarikan diri, sementara sebagian lagi memilih untuk tetap tinggal di dalam lapas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Kondisi bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A yang hancur akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 2 Oktober 2018. Runtuhnya dinding dan beberapa fasilitas lapas akibat gempa bumi menyebabkan sejumlah warga binaan melarikan diri, sementara sebagian lagi memilih untuk tetap tinggal di dalam lapas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta-Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menuturkan Rumah Tahanan (Rutan) Maesa Palu akan digunakan untuk menampung warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Palu, Donggala, dan Parigi yang sudah kembali pascagempa bumi dan tsunami.

    Para narapidana terpaksa ditampung di Rutan Maesa karena enam lapas di wilayah Palu belum dapat berfungsi secara optimal. “Nanti ada back up personel yang diminta ke Kapolda Sulawesi Tengah untuk membantu pengamanan di Rutan Maesa karena akan dijadikan penampungan sementara napi-napi yang sudah kembali,” ujar Dedi di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 11 Oktober 2018.

    Baca: 1.425 Napi Lapas Palu Belum Kembali Pasca Gempa Donggala

    Menurut Dedi belum semua warga binaan kembali atau melapor untuk masuk lapas. Berdasarkan data Polri sampai Selasa, 9 Oktober 2018, di Lapas Palu hanya 27 warga binaan yang melapor dari total 561 penghuni. Artinya masih ada 534 warga binaan yang belum kembali atau melaporkan akan kembali.

    Di Lapas Donggala pun hanya 49 narapidana yang sudah melapor dari jumlah penghuni 342. Sisa 293 warga binaan dinyatakan belum melapor. Adapun di Lapas Parigi dari 380 warga binaan, sudah setengahnya kembali dan 76 lainnya masih belum melapor untuk kembali. “Di Rutan Maesa Palu sendiri sebenarnya juga masih ada 333 napi yang belum kembali. Padahal sebelum terjadinya gempa jumlah penghuninya 465,” kata Dedi.

    Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM yang dihimpun dari enam unit pelaksana teknis Lapas Palu, Lapas Perempuan Palu, Rutan Palu, Rutan Donggala, Cabang Rutan Parigi, dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Palu, total ada 204 warga binaan yang berada di dalam. Sedangkan yang sudah melaporkan diri ada 364 orang. Sementara yang belum diketahui ada 1096 orang warga binaan.

    Simak: Gempa Palu, Tahanan dan Napi Boleh Keluar Penjara Selama Sepekan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.