Rabu, 24 Oktober 2018

Pemerintah Segera Bangun Barak Pengungsi Gempa Palu

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Basarnas bersama TNI dan relawan menggunakan alat berat untuk mencari jenazah korban gempa dan tsunami di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis, 4 Oktober 2018. Perumnas Balaroa diketahui sebagai perumahan pertama yang dibangun di kota Palu. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Anggota Basarnas bersama TNI dan relawan menggunakan alat berat untuk mencari jenazah korban gempa dan tsunami di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis, 4 Oktober 2018. Perumnas Balaroa diketahui sebagai perumahan pertama yang dibangun di kota Palu. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Palu - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan pemerintah akan segera membangun barak pengungsi atau hunian sementara bagi korban gempa Palu, Sulawesi Tengah.

    "Sementara kami cek lokasinya, Palu mau dibangun dimana. Sigi dan Donggala dibangun dimana, nanti kami lihat lokasinya," kata Longki di Palu, Senin, 8 Oktober 2018.

    Baca: 5.000 Orang Diduga Hilang Akibat Likuefaksi di Petobo dan Balaroa

    Pembangunan barak pengungsi itu, kata Longki, dilakukan agar pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian bisa mendapat tempat tinggal sementara. Pemerintah ingin agar tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.

    "Kami buat hunian sementara dulu, setelah itu baru melangkah ke pembangunan rumah pengganti. Itu mungkin satu tipe dan dibuatkan ketentuannya," kata Longki.

    Sementara itu, Asisten II Sekretariat Provinsi Sulawesi Tengah, Bunga Elim Somba menjelaskan hari ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan survei lokasi yang layak untuk pembangunan barak pengungsi tersebut. "Untuk korban Petobo kemungkinan dibangun di Ngata Baru (di atas Petobo), sementara di Balaroa kemungkinannya di Gawalise, Kelurahan Duyu," kata dia.

    Baca: Pencarian Korban Gempa dan Tsunami Palu Masih Dilakukan

    Petobo dan Balaroa adalah dua kelurahan terparah yang terkena dampak gempa 7,4 skala Richter pada Jumat, 28 September lalu. Daerah tersebut juga terdampak fenomena likuifaksi. Fenomena tersebut juga terjadi di desa Jono Oge, Kabupaten Sigi.

    Data BNPB menyebutkan di Balaroa ditemukan 82 korban tewas dan di Petobo 104 orang. Sementara bangunan rusak dan hilang di Balaroa sebanyak 1.045 unit di atas areal 47,8 hektare. Di Petobo terdapat 2.050 bangunan rusak dan hilang di atas area 180 hektare. Sementara di Kabupaten Sigi yakni Desa Jono Oge terdapat 366 unit bangunan rusak di atas areal 202 hektare.

    Elim mengatakan wilayah tersebut tidak layak lagi dijadikan lokasi pemukiman sehingga seluruh warga harus direlokasi. Para korban bencana itu pun akan ditampung di hunian sementara yang akan dibangun oleh Kementerian PUPR.

    Rencananya, kata Elim, satu barak pengungsi dapat menampung lima sampai 10 kepala keluarga. "Itu lengkap dengan MCK (mandi, cuci, kakus)," kata dia.

    Baca: BNPB: Gempa dan Tsunami Palu Merusak 66.926 Rumah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.