Senin, 10 Desember 2018

Pasca- Gempa dan Tsunami Palu, Bus Antarkota Mulai Beroperasi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria menata bantuan bagi korban bencana Palu dan Donggala di Pangkalan Udara (Lanud) Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Senin, 1 Oktober 2018. Ratusan karton bantuan berupa makanan instan, popok, obat-obatan, dan air masih menumpuk dan belum tersalurkan karena terkendala transportasi udara yang tertunda di Makassar dan Palu. ANTARA

    Seorang pria menata bantuan bagi korban bencana Palu dan Donggala di Pangkalan Udara (Lanud) Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Senin, 1 Oktober 2018. Ratusan karton bantuan berupa makanan instan, popok, obat-obatan, dan air masih menumpuk dan belum tersalurkan karena terkendala transportasi udara yang tertunda di Makassar dan Palu. ANTARA

    TEMPO.CO, Palu - Sejumlah angkutan bus dan mobil antarkota berangsur-angsur mulai beroperasi mengantar penumpang dari dan ke Palu, Sulawesi Tengah pascaterjadinya gempa dan tsunami Palu pekan lalu.

    Bustoni, 45 tahun, sopir mobil angkutan antarkota, mengatakan ia mulai mengantar penumpang sejak Jumat, 5 Oktober lalu. Rute utama yang ia lalui, Kota Palu menuju Kabupaten Poso.

    Baca: H+8 Gempa Palu, Frekuensi Gempa Susulan Menurun

    "(Saya) sudah pergi mengantar penumpang sejak tiga hari lalu, per hari selalu penuh sekitar 8-10 penumpang," kata Bustoni saat ditemui di Kota Palu pada Ahad, 7 Oktober 2018.

    Bustoni mengatakan penumpang yang ikut dengan mobil yang dikemudikannya ingin mengungsi ke rumah kerabatnya di Kabupaten Poso. "Walau pasar sudah mulai buka dan listrik mulai menyala, mungkin mereka ingin tenang dulu di rumah saudara," kata dia.

    Untuk sekali angkut, Bustoni mengaku tidak mengenakan tarif ke penumpang. "Lagi musibah, yang penting patungan bahan bakar saja. Normalnya memang satu kali jalan tarifnya sekitar Rp80 ribu," kata Bustoni.

    Baca: Konser kemanusiaan untuk Palu, 10 Jam Terkumpul Rp 17,8 M

    Selain itu, agen bus dan perjalanan Medi Suka Laksana (MLS) di Jalan Samratulangi, Palu Timur, Kota Palu, sudah membuka layanan angkutan orang dan barang gratis sejak Jumat, 5 Oktober lalu. "Kami tidak mengenakan tarif ke penumpang karena ini merupakan salah satu bentuk bantuan," kata Manajer MSL Kota Palu Sodiq saat ditemui di kantornya.

    Ia mengatakan layanan angkutan masih akan terus gratis hingga situasi di Kota Palu sudah kembali normal. "Kami melayani rute Kota Palu, Kabupaten Poso, Morowali, Ampana, dan Kota Manado," kata Sodiq.

    Dalam catatannya, dari Jumat hingga Ahad hari ini, ada sekitar 3.972 penumpang yang mendaftar. Selain mengangkut orang, mereka melayani jasa angkut barang seperti motor, kasur, ataupun logistik, diantaranya beras.

    Baca: BTS Telekomunikasi di Palu Sudah Pulih 60 Persen

    Meskipun Bahan Bakar Minyak (BBM) sempat langka di Kota Palu, Sodiq mengaku layanan MSL tetap diusahakan beroperasi melayani penumpang. "Kami ambil bahan bakar dari Poso, awalnya memang susah, tetapi saat ini sudah lebih mudah didapat," kata Sodiq.

    Gempa bumi dan gelombang tsunami yang menghantam Kota Palu dan sekitarnya pada Jumat, 28 September lalu sempat membuat kegiatan perekonomian di sana berhenti. Bencana tersebut meluluhlantakan akses jalan dan tempat-tempat umum di Palu dan sekitarnya. Hingga saat ini, jumlah korban mencapai 1.649 jiwa dan sekitar 70 ribu warga tengah bertahan di pengungsian.

    Di tengah masih berjalannya proses evakuasi, pasar mulai kembali beroperasi di beberapa wilayah Kota Palu, diantaranya Pasar Manonda di Jalan Kacang Panjang, Palu Tengah, dan Pasar Mombasa. Listrik juga sudah dapat diakses di sejumlah tempat di Kota Palu.

    Baca: Beberapa Faktor Penyebab Tsunami Palu Makan Banyak Korban


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.