Senin, 10 Desember 2018

Sandiaga Sebut Kwik Kian Gie Sempat Bertemu Ratna Sarumpaet

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno (dua dari kiri), bersama ekonom Kwik Kian Gie, dalam sebuah talk show di rumah pemenangan Prabowo-Sandiaga, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu malam, 26 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno (dua dari kiri), bersama ekonom Kwik Kian Gie, dalam sebuah talk show di rumah pemenangan Prabowo-Sandiaga, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu malam, 26 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden Sandiaga Uno mengatakan bahwa ekonom senior Kwik Kian Gie sempat bertemu Ratna Sarumpaet sebelum mencuat polemik hoax soal pemukulan belakangan ini. Sandiaga mengaku, informasi itu dia dapat dari Kwik kemarin, Rabu, 3 Oktober 2018.

    Baca juga: Kubu Prabowo Pertimbangkan akan Perkarakan Ratna Sarumpaet

    "Baru kemarin Pak Kwik telepon saya. Bu Ratna juga sempat dateng ke dia. Pak Kwik bilang, saya lupa kasih tahu Sandi," kata Sandiaga di Restoran Aljazeerah, Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis, 4 Oktober 2018.

    Sandiaga mengatakan, Kwik bercerita bahwa Ratna sempat menemuinya sekitar pekan lalu. Namun, Sandiaga tak merinci tanggal berapa tepatnya pertemuan itu berlangsung. Dia mengaku pembicaraan dengan Kwik berlangsung sangat singkat.

    Kwik, kata Sandiaga, mulanya ingin mengingatkan dirinya dan calon presiden Prabowo Subianto untuk memperhatikan Ratna secara khusus. Musababnya, Ratna membahas ihwal dana-dana kerajaan nusantara saat bertemu dengan mantan Menteri Ekonomi, Keuangan, dan Industri itu.

    Menurut Sandiaga, Kwik mengatakan bahwa Ratna Sarumpaet membawa dokumen setinggi satu meter. "Kalau enggak salah (soal) dana kerajaan atau apa yang luar biasa banyaknya dokumennya, hampir satu meter di kantornya Pak Kwik," kata Sandiaga.

    Penasihat ekonominya itu, ujar Sandiaga, merasa khawatir dengan Ratna Sarumpaet. Kekhawatiran itu disebut tak terlepas dari keterlibatan Ratna sebagai juru kampanye nasional Prabowo - Sandiaga.

    "Hal yang sama juga dilaporkan Pak Kwik ke Pak Prabowo," ujarnya.

    Sebelum ribut-ribut soal kabar bohong pemukulan dan penganiayaan, Ratna Sarumpaet memang memunculkan isu soal dana-dana kerajaan nusantara. Ratna mengaku mendapat laporan dari seseorang bernama Ruben P.S. Marey. Menurut Ratna, Ruben adalah salah satu keturunan raja nusantara yang mewarisi uang senilai Rp 23,9 triliun.

    Dana itu disebut akan digunakan untuk pembangunan di Papua. Namun, kata Ratna, duit yang disimpan dan ditransfer dari Bank Dunia ke rekening Ruben itu raib. Dia pun menuding pemerintah memblokir secara sepihak transaksi keuangan itu. Lebih lanjut, Ratna menyebut Ruben hanya satu dari tujuh keturunan raja nusantara yang mewarisi harta ribuan triliun.

    Baca juga: Empat Laporan Minta Polda Metro Jaya Usut Hoax Ratna Sarumpaet

    Bank Dunia membantah adanya transfer Rp 23,9 triliun ke seorang bernama Ruben P.S. Marey. Dalam keterangan resminya, Bank Dunia menyatakan tak pernah melakukan transaksi keuangan dengan pihak perorangan di Indonesia.

    "Terkait dengan tuduhan yang keliru baru-baru ini, bahwa Bank Dunia terlibat transaksi keuangan dengan pihak perorangan di Indonesia, dengan ini Bank Dunia Kantor Jakarta memberikan klarifikasi bahwa tuduhan tersebut tidak benar," demikian ditulis Bank Dunia dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 21 September 2018.

    Tak sampai dua minggu setelah ribut-ribut itu, Ratna kembali menghebohkan publik dengan kabar dirinya dipukuli dan dianiaya di Bandung, Jawa Barat. Belakangan, polisi mengungkap bahwa Ratna tak dipukuli, melainkan menjalani operasi di Rumah Sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat. Pihak rumah sakit mengkonfirmasi bahwa Ratna menjalani perawatan dan operasi pada 21-24 September. Ratna pun mengakui kebohongannya.

    Menurut catatan Tempo, Ratna Sarumpaet menyampaikan cerita soal dana kerajaan nusantara itu pada 19 September 2018. Artinya, dua hari sebelum Ratna masuk Rumah Sakit Bina Estetika.

    "Pak Kwik bilang, baru saya mau kasih tahu tapi udah kejadian," kata Sandiaga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.