Kapolri Benarkan Terjadi Perang Suku di Papua, Dua Polisi Terluka

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga suku pedalaman Papua berkumpul untuk mengikuti menampilkan aksi perang-perangan dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem ke-24 tahun 2013 di Distrik Wosilimo, Jayawijaya, Papua, (12/8). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

    Warga suku pedalaman Papua berkumpul untuk mengikuti menampilkan aksi perang-perangan dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem ke-24 tahun 2013 di Distrik Wosilimo, Jayawijaya, Papua, (12/8). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian membenarkan pagi tadi terjadi konflik di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

    "Iya itu perang suku," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Baca: Polri dan TNI Geledah Kantor Sekretariat KNPB Timika

    Tito mengatakan suku-suku di Papua memang kerap memilih jalan perang untuk menyelesaikan masalah. Imbasnya di sana sering terjadi perang suku.

    Mantan Kepala Kepolisian Daerah Papua ini menyebut perang suku biasa terjadi jika ada masalah sengketa tanah, perempuan dan hal lainnya di tengah masyarakat. Jika kedua suku tidak bisa menyelesaikan dengan skema membayar denda, maka jalan yang dipilih adalah perang.

    Baca: Polri-TNI Tangkap 8 Orang Beserta Ratusan Amunisi di Papua

    Akibat berusaha melerai perang suku ini, kata Tito, dua personel polisi dikabarkan terluka. Adapun terkait korban jiwa Tito belum bisa menjawab. "Nanti kami lihat," ujarnya.

    Sebelumnya beredar kabar terjadi konflik berdarah di Kabupaten Bintang pagi tadi. Informasi yang beredar ada empat korban tewas dan lima orang luka-luka. Tito menyerukan kepada masyarakat Papua agar ke depan tidak lagi menjadikan perang untuk menyelesaikan konflik antarsuku.

    Baca: Tito Karnavian Sebut Papua Masih Jadi Daerah Rawan di Pemilu 2019


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.