Jumat, 14 Desember 2018

Kisah Lumpur yang Menggulung Petobo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua mobil terjebak di antara jalanan yang amblas akibat gempa di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. Fenomena likuifaksi yang terjadi saat gempa di Palu mengakibatkan sejumlah rumah di kawasan Balaroa dan Petobo seperti hilang tertelan bumi. REUTERS/Beawiharta

    Dua mobil terjebak di antara jalanan yang amblas akibat gempa di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. Fenomena likuifaksi yang terjadi saat gempa di Palu mengakibatkan sejumlah rumah di kawasan Balaroa dan Petobo seperti hilang tertelan bumi. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Rahmat menirukan bagaimana lumpur itu turun ke arah Kelurahan Petobo dengan gerakan tangannya. Lumpur itu, kata dia, menutupi seluruh perumahan warga yang ada di sana. Kini, pemukiman itu disebut sebagai daerah yang ditelan bumi.

    Baca juga: 18 Negara Bantu Korban Gempa Donggala dan Tsunami Palu

    "Seperti menggulung lumpur itu. Lumpur dari tanah campur air. Ribuan rumah ini yang tertimbun," ujar Rahmat di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Lumpur yang menutupi daerah Petobo ini mulanya disebabkan oleh gempa berkekuatan 7,4 skala richter di Palu. Gempa ini membuat Palu dan sekitarnya porak-poranda. Petobo adalah salah satu daerah terdampak parah akibat gempa itu.

    Rahmat adalah warga Desa Olobojo, Kabupaten Sigi. Dia setiap hari datang ke Petobo untuk membantu evakuasi. Saat kejadian, Rahmat berada di dekat Petobo.

    Rahmat mengatakan ada empat orang anggota keluarganya yang tertimbun di situ. "Sementara ini cari anak sepupu saya ini, ada tiga sampai empat orang di sini," katanya.

    Rahmat mengatakan rumah anggota keluarganya itu jauh dari titik ujung lumpur yang menggulung Petobo. Namun, lumpur itu membawa rumah keluarganya sampai ke bawah. Dia sendiri tak tahu di mana harus mulai mencari rumah keluarganya yang terseret.

    Menurut Rahmat, lumpur itu muncul dari bawah tanggul air yang berada di atas pemukiman warga. Saat gempa, kata dia, lumpur muncul dari dua titik yang berada di atas. Lumpur yang berasal dari kedua titik itu turun dan bertemu tepat di Petobo.

    "Kurang lebih lima kilometer desa yang tertutup lumpur ini. Dari atas sampai ujung sini," ucap lelaki 36 tahun ini.

    Rahmat memperkirakan ada ribuan orang yang tertimbun oleh lumpur di Petobo. Sampai saat ini, kata dia, tim evakuasi gabungan baru menemukan delapan orang sejak hari pertama musibah.

    Baca juga: Penjarahan Usai Gempa Donggala, Wiranto: Ada yang Liar

    "Ada ribuan rumah di sini kira-kira. Hancur semua kena gempa dan disiram air lumpur," tuturnya.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Koya Palu menyebut Petobo menjadi salah satu daerah terparah dalam gempa di Palu, Jumat pekan lalu. Petobo disebut mengalami kerusakan paling dahsyat karena rumah dan fasilitas publik di titik itu tertimbun tanah bak ditelan bumi.

    "Kami belum identifikasi di Perumnas Balaroa dan Kelurahan Petobo karena lokasinya sangat parah," kata Kepala BPBD Kota Palu Fresly Tampubolon di Palu, Senin kemarin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komitmen Antikorupsi Partai Politik Diragukan

    Partai-partai mengklaim berkomitmen antikorupsi melawan korupsi setelah para petingginya ditangkap KPK. Berikut empat di antaranya....