Bupati Muba: Indonesia Akan Melawan Kampanye Negatif Sawit di Uni Eropa

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musi Banyuasin menjadi contoh program peremajaan kebun (Replanting) kelapa sawit  melalui pendanaan langsung dari pemerintah pusat untuk 4.446 hektare kebun kelapa sawit masyarakat didaerahnya. (dok Pemkab Muba)

    Musi Banyuasin menjadi contoh program peremajaan kebun (Replanting) kelapa sawit melalui pendanaan langsung dari pemerintah pusat untuk 4.446 hektare kebun kelapa sawit masyarakat didaerahnya. (dok Pemkab Muba)

    INFO NASIONAL-- Bupati Musi Banyuasin H Dodi Reza Alex mengatakan bahwa Sawit Indonesia sudah ramah lingkungan dan akan memperjuangkan harga sawit Sekayu. Tantangan terbesar yang dihadapi industri sawit nasional saat ini dan tahun-tahun mendatang adalah kampanye negatif di luar negeri. “Pihak Eropa menganggap Industri sawit nasional tidak ramah lingkungan,” ujar Dodi, di Musi Banyuasin pada Minggu, 30 September 2018. 

    Padahal, sawit kini menjadi produk ekspor nomor satu di Indonesia dengan nilai US$ 20 miliar pada 2013. Meski menguntungkan, sawit mempunyai tantangan ke depan yang cukup berat dan harus disikapi dengan baik bila ingin tetap menjadi komoditas unggulan dalam waktu yang lama, yakni adanya kampanye negatif akan sawit. Sawit Indonesia didera kampanye negatif dan rawan menghancurkan posisi Indonesia 

    Apa bahayanya kampanye negatif ini? Uni Eropa (UE) yang mengeluarkan EU Labelling Regulation 1169/2011 mempersyaratkan pencantuman sumber minyak nabati secara spesifik untuk seluruh produk makanan yang beredar di UE. Selain itu Indonesia juga mendapat tuduhan dari UE atas produk biodiesel dan fatty alcohol

    Selaku Bupati Musi Banyuasin dan Ketua LKTL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari /Chairman of sustainable Districts Platform), Dodi punya banyak energi menuntaskan persoalan ini. Dia akan berjuang dan menghadiri undangan Aliansi Minyak Sawit Eropa / (EPOA) di European Palm Oil Conference, Madrid awal Oktober 2018 ini. 

    Posisi Indonesia sebagai produsen terbesar kelapa sawit dunia harus tetap eksis. Di konferensi ini Dodi akan berjibaku bersama pembicara lainya dari Indonesia, yakni Enggartiasto Lukita, Menteri perdagangan  Republik Indonesia / Minister of Trade Indonesia) dan Dubes RI Arif Havas Oegroseno untuk Negara Jerman (Ambassador Embassy of the Republic of Indonesia to Germany) 

    Ada sejumlah hal penting yang akan ditebarkan orang nomor satu di Muba ini. Sebagai kabupaten di Sumatera Selatan, Muba punya lahan sawit sangat luas. Muba pun tercatat sebagai pelopor peremajaan sawit di Indonesia. Muba menjadi contoh program peremajaan kebun (Replanting) kelapa sawit  melalui pendanaan langsung dari pemerintah pusat untuk 4.446 hektare kebun kelapa sawit masyarakat didaerahnya 

    Kini, replanting telah  berjalan dengan baik. Selanjutnya, Dodi akan menjalin sinergitas dengan pemerintah pusat dan stakeholder terkait untuk dikembangkan demi meningkatnya hasil panen. Targetnya, para petani kelapa sawit yang tadinya meraup 2 ton per hektare menjadi 8 ton per hektare. Lebih penting lagi, Dodi punya arena untuk membukakan mata peserta konferensi sawit hingga memperjuangkan harga sawit Indonesia kedepannya

    "Saat ini kita diserang  kampanye negatif yang menyatakan produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) asal Asia tidak ramah lingkungan. Tuduhan ini digaungkan oleh negara-negara Eropa. Sehinggga berakibat penurunan harga minyak  sawit di pasar global. Muba sebagai pemasok produksi sawit Indonesia juga kena dampak," ujar Dodi. 

    Di arena konfrensi Minyak Sawit Eropa (European Palm Oil Conference,) EPOC 2018, Madrid Spanyol nanti, Dodi harus meyakinkan pihak swasta industri sawit dunia, pemerintah Eropa serta para pakar minyak sawit dunia. Misi dan pesan  bahwa kelapa Sawit Indonesia Ramah Lingkungan menjadi topik utama paparan ini.

    "Hal inilah yang harus disikapi dengan baik oleh semua pemangku kepentingan di industri sawit indonesia. Saya bersama pemerintah Indonesia akan memperjuangkan misi ini di konfrensi Minyak Sawit Eropa. Dunia harus tahu industri sawit Indonesia ramah lingkungan dan berkelanjutan," tutur Dodi  yang akan berbicara pada 3 dan 4 Oktober 2018. 

    Menurutnya, konferensi ini juga meenghadirkan Yayasan Spanyol tentang minyak sawit berkelanjutan dan proyek minyak sawit berkelanjutan Eropa. Hal ini sejalan dengan Inisiatif Nasional Eropa untuk Minyak Sawit Berkelanjutan, Negara Penghasil Minyak Sawit dan 'Deklarasi Amsterdam Group’. Pihak paling kompeten dalam industri sawit Eropa ini fokus dalam mendukung rantai suplai minyak sawit berkelanjutan sepenuhnya pada tahun 2020. 

    "Di konfrensi ini kita akan mengkampanyekan hasil kelapa sawit Musi Banyuasin dan  Indonesia. Hasil kelapa sawit kita lebih baik dan ramah lingkungan. Pelaku sawit dunia dan Eropa harus paham posisi Indonesia dan Muba dalam hal penghasil sawit terbesar dunia. Tentu kedepan harga sawit Indonesia harus naik dan meningkatkan pendapatan petani kelapa sawit kita," kata Dodi. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.