Senin, 10 Desember 2018

Kisah Pria yang Kehilangan 12 Keluarganya Saat Tsunami Palu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah masjid terlihat rusak parah akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah,  Sabtu, 29 September 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa Donggala sebanyak 384 jiwa per pukul 13.00 WIB, Sabtu, 29 September 2018. AP/Rifki

    Sebuah masjid terlihat rusak parah akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa Donggala sebanyak 384 jiwa per pukul 13.00 WIB, Sabtu, 29 September 2018. AP/Rifki

    TEMPO.CO, JakartaTsunami Palu menyapu Pantai Talise yang tengah ramai dikunjungi karena ada festival Pesona Palu Nomoni 3. Acara yang dihadiri banyak warga Palu itu berganti jadi kedukaan mendalam setelah gempa Donggala berkekuatan M 7,4 skala richter yang disusul tsunami Palu.

    Baca juga: 6 Fakta Gempa Donggala dan Data Korban yang Terus Bertambah

    Salah satu yang berduka adalah Fandy, seorang warga Palu. Ia berkisah keluarganya yang berjumlah 12 orang keluarga dan kerabatnya hilang pasca tsunami Palu itu.

    Saat ditemui petang tadi, Fandy masih sibuk mencari keluarganya itu.
    Dengan sepeda motor, dia berkeliling ke sekitar tumpukan rongsokan bangunan bercampur tanaman yang tersapu gelombang tsunami kemarin, di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah.

    "Sudah cek, sudah bongkar, pasang lagi bongkar lagi, tetap tak ada," ujar Fandi getir di Palu, Sabtu, 29 September 2018.

    Fandy menuturkan ada 12 orang keluarganya yang menjadi korban sapuan gelombang tsunami. Mulai dari orang tuanya hingga kerabatnya. "Ada mace, sepupu, orang tua, kakak adiknya bapak juga," katanya.

    Fandy berharap dapat menemukan keluarganya yang diduga ikut tersapu Tsunami Palu pada Jumat, 28 September 2018.

    Fandi bercerita, sebelum gempa dan tsunami, dirinya sedang menjadi juru parkir di sekitar Pantai Talise. Saat itu, di daerah itu sedang ada festival Pesona Palu Nomoni yang membuat warga berkunjung ke Pantai Talise. "Waktu kemarin itu, mamak saya menjual pisang goreng di acara, jadi keluarga semua pada bantu," katanya.

    Saat tsunami menerjang, Fandy menuturkan, dia sudah tak berada di lokasi. Dia berkata harus pulang untuk mengurusi anaknya yang sedang berada di rumah. Ketika kembali ke lokasi, ia sudah melihat air menyapu daratan. "Saya lihat air sudah di sini, bekejar sudah air itu," ucapnya dengan mata yang merah.

    Baca juga: Gempa Donggala dan Palu, Begini Penjelasan Kepala BMKG

    Fandy menjelaskan dia baru bisa mencari keluarganya pada Sabtu pagi. Namun, tak satu pun keluarganya dapat ditemukan hingga sore tadi. "Ini titik terangnya belum ada. Tadi ada tetapi salah angkat ternyata," ucap lelaki berusia 22 tahun itu.

    Fandi juga sempat mencari keluarganya di antara para korban meninggal yang ada di rumah sakit. Namun, semua korban meninggal akibat tsunami Palu itu tak satu pun merupakan anggota keluarganya.

    Menurut Fandy, dirinya kesulitan menemukan keluarganya karena faktor jenazah yang terkena air. Dia berkata bentuk para jenazah sudah membiru dan bengkak sehingga susah untuk dikenali. "Tadi ada Pak RT sini katanya sudah ketemu jenazah mamak, katanya jenazah sudah di RS Bhayangkara. Tapi, wajahnya sudah tak bisa dikenali," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.