Selasa, 23 Oktober 2018

Mundur dari Rais Aam, Ma'ruf Amin: Saya Tetap Berjuang untuk NU

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden Maruf Amin besalaman dengan istri mendiang Presiden RI ke-4 Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Shinta Nuriyah Wahid saat berkunjung ke rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, 26 September 2018. TEMPO/Dewi N

    Calon Wakil Presiden Maruf Amin besalaman dengan istri mendiang Presiden RI ke-4 Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Shinta Nuriyah Wahid saat berkunjung ke rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, 26 September 2018. TEMPO/Dewi N

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin pamit mundur sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam acara Silaturahmi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember di Pondok Pesantren Nurul Islam, Jember, Kamis siang, 27 September 2018. Ma'ruf Amin mengaku harus mundur karena telah dipilih sebagai calon wakil presiden oleh Joko Widodo atau Jokowi.

    Baca juga: Kata Ma'ruf Amin soal Dukungan Yenny Wahid di Pilpres 2019

    "Saya memohon pamit, memohon restu, memohon ijin mundur sebagai Rais Aam," kata Ma'ruf Amin. Kendati sudah mundur dari Rais Aam PBNU, kata Ma'ruf, dia saat ini tetap berada di dalam jajaran PBNU.

    "Saya sudah mustasyar di PBNU," ujarnya. Alasan mundur sebagai Rais Aam PBNU lantaran statusnya saat ini yang telah menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi Calon Presiden Jokowi. "Baru tiga hari lalu (menjadi mustasyar), sebelumnya masih menjadi Rais Aam," kata Ma'ruf Amin.

    Sesuai dengan aturan di organisasi di lingkungan PBNU, Sekretaris, Rais Syuriah dan Rais Aam yang dicalonkan sebagai eksekutif maupun legislatif, harus mengundurkan diri. "Ini untuk menjaga bahwa aturan itu harus benar-benar dilaksanakan. Walaupun dengan berat hati dan sedih," kata Ma'ruf menambahkan.

    Padahal, waktu dipilih sebagai Rais Aam dalam Muktamar NU di Jombang, Ma'ruf Amin mengatakan telah berniat untuk bekerja dan mewakafkan dirinya agar NU di akhir 100 tahun pertama, dapat menyiapkan landasan buat NU sehingga nanti di 100 tahun kedua NU bisa lepas landas.

    "Tetapi apa yang saya inginkan itu ternyata tidak dapat terlaksana sepenuhnya, karena harus mundur dari Rais Aam PBNU," ujar Ma'ruf Amin. Kendati demikian, kata Ma'ruf, dirinya tetap sebagai mustasyar. "Saya tetap menjadi kader NU dan tetap berjuang untuk NU," ujarnya.

    Baca juga: Yenny Wahid: Kami Paling Lama Kenal dengan Ma'ruf Amin

    Dia juga mengaku bersyukur Jokowi memilih cawapresnya dari kalangan ulama. "Sebenarnya bisa saja ambil cawapres dari kalangan profesional atau politisi. Tetapi yang diambil kemudian dari kiai. Ini menunjukkan Jokowi sangat mencintai kiai. Karena itu beliau (Jokowi) ingin didampingi kiai," ujar Ma'ruf.

    Ma'ruf Amin melakukan kunjungan ke lima pesantren di Kabupaten Jember, Kamis, 27 September 2018. Lima pesantren di Jember itu antara lain, Pesantren As Shidiqiyah Putra di Kecamatan Kaliwates, Pesantren Nurul Islam di Kecamatan Sumbersari, Pesantren Raudlatul Ulum di Kecamatan Sukowono, Pesantren Al Qodiri di Kecamatan Patrang dan Pesantren Assuniyah di Kecamatan Kencong.

    Pada Jumat besok, 28 September 2018, Ma'ruf Amin akan melanjutkan kunjungannya ke Pesantren Zainul Hasan Genggong dan Pesantren Nurul Jadid, Paiton. Kedua pesantren ini berada di Kabupaten Probolinggo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.